ilustrasi, tamÂbang mineral
ilustrasi, tamÂbang mineral
RMOL. Pengusaha Kamar DaÂgang dan Industri (Kadin) InÂdonesia meÂminÂta pemerintah lebih longÂgar dalam meneÂrapkan kebijaÂkan hilirasasi (keÂbijakan nilai tambah) setiap produk tamÂbang mineral.
Dalam kebijaÂkan yang terÂtuang di Peraturan Menteri (Permen) ESDM NoÂmor 7/2012 disebutkan, penguÂsaha tambang mineral logam tidak boleh mengekspor bijih mineÂral, kecuali mereka sudah meÂngajukan rencana pembuaÂtan instalasi pengolahan (smelÂter) bijih mineral.
Untuk itu, Kadin menduÂkung kebijakan pemeÂrintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya MiÂneral (ESDM) mengenai peÂningkatÂan nilai tambah hasil mineral.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Riset dan TekÂnologi Bambang Sujagad meÂngatakan, Kadin siap memÂbantu anggotanya menyiapkan tenaga ahli mulai proses clear and clear sampai pada penyiaÂpan business plan untuk memÂbangun smelter.
“Kadin memandang memÂbangun smelter ini bisa mengÂangkat harkat dan martabat bangsa, yang tadinya IndoneÂsia hanya mengekspor bahan mentah, maka Indonesia akan mampu mengekspor barang jadi hasil manufaktur untuk men-supply dunia. Oleh karena itu, pembangunan smelter-smelÂter ini sangat penting untuk Indonesia,†tukas Bambang.
Dikatakan, dalam waktu deÂkat Kadin akan membicarakan lebih lanjut deÂngan KemenÂterian ESDM dan Kementerian Perindustrian tentang teknis dan spesifikasi jenis barang yang akan dihasilkan pada pemÂbaÂngunan smelter ini. Misalnya Industri pengolahÂan/pemurnian dilaksanakan seÂcara bertahap tidak langÂsung mensyaratkan 99 persen proÂduk jadi.
Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik meminta peÂngÂusaha tambang jangan panik menghadapi rencana pemÂbaÂtasan ekspor mineral mentah untuk 14 jenis logam.
“Para penambang tidak perÂlu khaÂwatir, yang penting biÂkin smelter. Kemudian semua keÂwajiban seperti pengenÂdalian lingkungan dilakukan,†ujar Jero.
Dia yakin, pengusaha diwaÂkili oleh Kadin bisa menerima kebijakan pemerintah yang terÂtuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.7/2012 tentang peÂningkatan nilai tambah ekspor mineral. “Peraturan itu untuk menÂÂdorong pengusaha memÂbangun smelter. Tidak boleh lagi mengekspor barang tamÂbang mineral (mentah). Mulai 6 Mei 2014, tidak boleh lagi eksÂpor barang mentah kecuali dia membuat smelter,†ujarnya.
Dia menambahkan bahwa untuk perusahaan yang belum memiliki smelter, masih diperÂbolehkan mengekspor barang mentah tetapi dikenakan bea keluar. Adapun ke-14 mineral yang dilarang ekspor mentah adalah tembaga, emas, perak, timah, timbal, kromium, molyÂbÂdenum, platinum, bijih besi, pasir besi bauksit, maÂngan, nikel dan antimol.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, DistriÂbusi dan Logistik Natsir ManÂsyur mengaku Kadin menduÂkung berdasarkan atas pertimÂbangan bahwa Izin Usaha PerÂtambangan (IUP) pada umumÂnya baru berproduksi 2011-2012. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23