ilustrasi, Nikel
ilustrasi, Nikel
RMOL. Asosiasi Nikel Indonesia (ANI) menyambut baik langÂkah pemerintah yang meÂneÂrapkan bea keluar (BK) miÂneral rata-rata 20 persen untuk meÂnekan ekspor bahan baku yang berlebihan.
Ketua Umum ANI Shelby Ihsan Hasan mengatakan, sejak awal pihaknya menguÂsulÂkan angka bea keluar tamÂbang mineral 15 sampai 25 perÂsen.
“Bea keluar 20 persen damÂpaknya tidak begitu beÂsar,†kata Shelby kepada RakÂyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Ia mengakui, penerapan bea keluar secara tidak langsung akan berdampak pada peneÂriÂmaan atau keuntungan peruÂsaÂhaan. Dengan aturan itu, para pengusaha nikel harus meÂlakukan efisiensi.
Ditanya apakah pihaknya juga melakukan tekanan agar bea keluar lebih rendah dari usulan pemerintah antara 30-50 persen, Shelby mengaku tidak ada. Menurut dia, pihakÂnya hanya meminta agar peÂmerintah tidak terlalu tinggi menerapkan bea keluar supaya tidak mengganggu kinerja.
Dia juga mengaku, sepanÂjang 2009 hingga 2011 ekspor miÂneral mengalami kenaikan 500-800 persen. Kenaikan jumÂlah ekspor itu disebabkan anjloknya harga jual.
Selain itu, kenaikan itu juga disebabkan industri dalam negeri tidak ada yang menyeÂrap nikel. “Saat ini masih nol perÂsen. PT Aneka Tambang (AnÂtam) juga hanya mengamÂbil dari hasil tambangnya senÂdiri,†kata Shelby.
Terkait pembangunan pabÂrik pemurnian (smelter), kata Shelby, pihaknya optimis pemÂbangunan itu bisa dilaÂkukan dalam waktu cepat dan pada 2014 dan siap menÂjaÂlankan keputusan pemeÂrinÂtah untuk tidak lagi mengÂekspor bahan tambang.
“Pemerintah sudah menaÂwarÂkan insentif yang ditaÂwarkan pemerintah. Cuma yang menÂjadi kendala adalah keÂtersediaÂan infrastruktur,†katanya.
Menurut Shelby, pembaÂnguÂnan smelter tidaklah muÂdah karena membutuhkan inÂvesÂtasi yang sangat besar. Tapi, itu bukan masalah kareÂna ada beberapa negara yang menjual smelter bekas, miÂsalnya China.
“Saat ini harga alat-alat smelÂter yang standar 50 juta doÂlar AS. Sedangkan yang bekas harganya 10 juta dolar AS,†jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23