ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Keberadaan Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum bisa diharapkan banyak untuk menjamin produk jajanan atau makanan aman dikonsumsi. Pasalnya, jajanan yang dijual di sekitar sekolah terbukti masih banyak yang tidak sehat dan mengandung bahan kimia yang membahayakan bagi kesehatan.
Para orangtua mesti lebih ekstra hati-hati mengawasi mÂaÂkanÂÂan yang dibeli buah hati Anda di luar rumah. DPR berharap, BPOM mamÂpu membenahi sisÂtem pengaÂwasan makanan di luar.
Anggota Komisi IX DPR bidang Kesehatan Herlini Amran meÂngatakan, berÂedarnya jajanan menggunakan bahan kimia seÂperti formalin, boraks, rhodaÂmin B, methanyl yellow, penggunaan baÂhan tamÂbahan pangan berleÂbihan, terÂcemar logam berat dan pesÂtiÂsida, serta buruknya higiene dan saniÂtasi, menyebabkan renÂdahnya kualitas mikrobiologis.
“Koordinasi yang dibangun BPOM kepada instansi terkait tidak berjalan optimal. Sehingga peredaran makan tersebut bebas begitu saja dan itu memÂbahaÂyaÂkan bagi generasi anak bangsa ke depan,†ujar Herlini di JaÂkarta, Jumat.
Berdasarkan data BPOM, haÂnya 64,54 persen produk paÂngan jajanÂan anak sekolah yang meÂmeÂnuhi Âsyarat. Artinya, BPOM tak mamÂpu menjalankan ProÂgram Rencana Aksi NasioÂnal PaÂngan Jajanan Anak SekoÂlah yang diÂcaÂnangkan Wapres BoedÂioÂno.
“Jajanan anak sekolah itu meÂmegang peranan penting terhadap asupan energi dan gizi bagi keÂcerÂdasan anak ke depan. PerlinÂdungan makanan di lingkungan sekolah harus ditingkatkan,†pinta Herlini.
Lalu, ia membeberkan data yang diberikan BPOM keÂpada Komisi IX DPR yang diperoleh dari samÂpling yang dilaksanakan oleh 30 BaÂÂlai POM di Indonesia deÂngan samÂÂpÂle 886 SD/MaÂdraÂsÂah IbtiÂdaÂiyah yang terÂseÂbar di 30 kota, diÂdaÂpatkan 3.103 seÂkolah atau 64,54 perÂsen sekoÂlah yang memeÂnuhi syarat (MS) dan 1.7,05 (35,46 persen) sample yang tidak meneÂnuhi syarat.
“Padahal rendahnya kualitas jaÂjanan anak sekolah dapat memÂperburuk status gizi anak sekolah akibat terganggunya asupan gizi dan membahayakan bagi keseÂhatan,†tutur Herlini.
Untuk itu, ia meminta BPOM meningkatkan kinerjanya dengan memperkuat kerja sama dengan pihak sekolah dan stakholder terkait, agar anak-anak tiÂdak saÂlah membeli makanan di luar.
“PengaÂwasan harus dilakukan secara intensif, sistematis dan visioner agar anak-anak sekolah terhindar dari bahaya makanan tersebut,†pungkasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucky Oemar Said mengakui bahwa kinerjanya belum optimal. NaÂmun, dia berkilah, leÂmahnya pengawasan tidak serta merta kesalahannya. Tetapi itu diÂkaÂrenakan belum adanya UnÂdang-undang (UU) tentang peÂngaÂwasan obat dan makanan.
Untuk itu, pihaknya akan menÂdorong agar Undang-Undang POM bisa terealisasi pada masa jabatannya. “Kami memerlukan legal basis yang lebih kuat lagi meski aturan itu sudah ada di UnÂdang-Undang No 23/1992 tenÂtang Kesehatan, namun belum optiÂmal,†kata Oemar. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12