ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Pemerintah mendesak pengusaha menerima penghapusan sistem outsourcing. Ada potensi gangguan terhadap investasi.
Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, politik upah murah yang masih diterapkan penguÂsaha merupakan bentuk eksÂploiÂtasi manusia. Sistem peÂngÂupaÂhan terÂsebut tidak selaÂyaknya diteÂrapkan di Indonesia.
“Semua pihak tidak sepakat deÂngan politik yang mengÂeksÂploiÂtasi para pekerja dan hal itu harus segera dihentikan,†tegas Agung saat membuka seminar naÂsional tentang “Politik Upah Murah†yang diselenggarakan KonÂÂÂfederasi Serikat Pekerja SeÂluruh Indonesia (KSPSI) di JaÂkarta, kemarin
Dia menjelaskan, harus ada keseÂpakatan bersama soal upah yang layak untuk pekerja. Hal ini berkaitan dengan disparitas antar wiÂlayah, perkembangan penÂduÂduk, pertumbuhan ekonomi dan faktor lainnya.
Sebelumnya, Menakertrans Muhaimin Iskandar setuju deÂngan penghapusan sistem outsourcing. Apalagi, sudah ada puÂtusan dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan aturan sisÂtem tersebut. Sayangnya, di lapangan baÂnyak pengusaha yang masih menerapkan sistem kontrak kerja tersebut.
Menanggapi desakan peÂmeÂrintah itu, pada prinsipnya AsoÂsiasi Pengusaha Indonesia (ApinÂÂdo) siap jika memang outsourcing akan dihapuskan. Namun, diÂperlukan keputusan untuk meÂngubah UnÂdang-Undang (UU) yang ada.
Menurut Ketua Umum ApinÂdo Sofjan Wanandi, pada prinÂsipnya Apindo siap jika meÂmang outsourcing akan dihaÂpusÂkan. “Jika buruh menginginÂkan dihaÂpusÂkannya sistem outsourcing, maka Undang-Undang terkait harus diÂubah,†katanya di Jakarta, kemarin.
Namun, lanjutnya, hal itu akan berdampak pada iklim inÂdustri di Indonesia. Pasalnya, setiap indusÂtri akan meÂngeÂluarÂkan budget leÂbih banyak untuk membayar peÂsangon karyawan.
“Masih banyak neÂgara di dunia ini yang memilih meÂnerapkan outsourcinguntuk menarik inÂvestasi. Hal ini akan memÂbuat pelaku industri dapat meÂminÂdahÂkan usahanya ke neÂgara yang maÂsih menerapkan sistem outsourcing karena alasan upah yang murah,†warning Sofjan.
Sofjan mengatakan, meski InÂdoÂnesia sudah diganjar InvestÂment Grade, namun tetap memÂbuÂtuhkan kepastian dan sinkroÂnisasi peraturan untuk meÂnarik investasi. “PermaÂsalahÂan terkait kepastian dan sinÂkroÂnisasi perÂaturan dapat menjadi hamÂbatan utama bagi aliran inÂvestasi ke Indonesia,†katanya.
Menurut dia, bagi kalangan pengusaha, kepastian peraturan dan kebijakan antar instansi yang belum sinkron, harus segera diÂbenahi oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.
“Semua pengusaha pasti butuh kepastian agar usahanya bisa berÂjalan dengan baik. Kepastian peraturan antara pusat dan daerah yang belum sinkron serta keÂbiÂjakan antar lembaga yang juga tidak sinkron. Seperti masalah tax holiday dan sebagainya, harus seÂgera dibenahi,†cetusnya.
Ditambahkan, dalam beberapa waktu belakangan ini, sebenarnya banyak pengusaha dari berbagai negara di Eropa maupun Amerika Serikat yang ingin masuk ke InÂdonesia.
Hal tersebut tak lepas dari proÂyeksi perkembangan ekoÂnomi global ke depan yang cenÂderung mengarah ke Asia.
“Eropa dan Amerika itu masa lalu. Ke depan waktunya Asia. Ini suÂdah dipahami oleh semua peÂngusaha di dunia. Dari Inggris saja sudah ada 58 pengusaha yang siap masuk ke Indonesia. Sebanyak 20 di antaranya sama sekali belum pernah masuk ke sini,†tutur Sofjan.
Kepastian dan sinkronisasi peraturan dan kebijakan, menuÂrut Sofjan juga ditunggu oleh kalaÂngan pengusaha dalam neÂgeri sehingga dapat mengemÂbangkan usahanya agar mampu bersaing dengan pengusaha dari luar neÂgeri. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23