Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Gawat, Cadangan Minyak RI Tinggal 12 Tahun Lagi

PLN Belum Bisa Lepas Dari Ketergantungan BBM
KAMIS, 03 MEI 2012 | 08:07 WIB

RMOL.Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) meminta pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap minyak.

“Cadangan minyak Indo­ne­sia tidak seperti dulu lagi. Saat ini cadangan minyak tinggal 10-12 tahun,” kata Kepala Humas, Se­kuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana kepada Rakyat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, saat ini keter­gan­tungan terhadap minyak sangat tinggi, sehingga produksi yang ada sulit untuk memenuhi ke­butuhan dalam negeri. Apalagi tingkat pengurusan minyak In­donesia lebih besar di­banding negara-negara lain de­ngan sum­ber minyak yang besar.

Gde menyatakan, saat ini tidak ada penemuan cadangan-ca­da­ngan baru yang maksimal seperti La­pangan Minas dan Lapangan Duri. Kedua lapangan itu pernah menghasilkan produksi tertinggi, mi­salnya untuk lapangan Minas bisa tembus angka 1,6 juta barel.

Namun, saat ini produksi mi­nyak dalam negeri terus di bawah satu juta barel. Apalagi minyak ini sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. “Kalau dia (mi­nyak) habis ya habis, tidak bisa dikuras lagi,” ucap Gde.

Dia juga mengatakan, produksi minyak memang tidak mudah. Pa­salnya, kegiatan eksplorasi itu tidak semuanya bisa berhasil atau de­ngan bahasa lainnya 10 kali nge­bor bisa jadi cuma tiga sumur yang menghasilkan.

Selain itu, sumur yang baru mak­simal hasilnya bisa diketahui se­telah jangka waktu 20-30 ta­hun. Jadi, kalau saat ini dite­mu­kan cadangan baru, maka ha­sil­nya tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat.

Karena itu, Gde mengusulkan pe­merintah untuk lebih me­man­faatkan gas. Sebab, cadangan gas da­lam negeri sangat tinggi di­ban­ding minyak. “Cadangan gas ma­sih aman sampai 40-60 tahun lagi. Tapi itu juga tergantung penemu­an ca­dangan gasnya,” jelasnya.

Terkait murahnya harga gas un­tuk impor, Gde menjelaskan, saat itu harga memang terlalu murah. Bah­kan, dulu ketika pemerintah me­nemukan sumur gas langsung ditutup karena harganya terlalu murah. Namun, saat ini pihaknya terus memperbaiki harga gas un­tuk ekspor dan domestik demi me­ningkatkan permintaan.

Gde mencontohkan, pihaknya te­lah menaikkan harga jual gas bu­mi dari ConocoPhillips ke Pe­tronas, Malaysia.

Sebelumnya, BP Migas ber­hasil menaikkan harga gas dari la­pangan Maleo yang di­ope­rasikan Santos di Jawa Timur. Peru­sahaan Gas Negara (PGN) se­ba­gai pem­beli telah setuju mem­perbaiki harga dari  2,4 dolar AS per juta mi­l­lion bri­tish ther­mal units menjadi 5 dolar AS de­ngan paso­kan 110 juta kaki kubik per hari.

Alasannya, selain mening­kat­kan penerimaan negara, per­baikan har­ga gas dapat meng­giat­kan ke­giatan operasi migas, khu­susnya di la­pa­ngan gas marginal yang selama ini belum dikem­bangkan. “Investor akan lebih ter­tarik kare­na harganya bersaing,” katanya.

Gde menegaskan, pihak­nya te­rus berupaya meningkatkan pa­sokan gas domestik setiap ta­hunnya. Mulai 2009, porsi do­mestik telah lebih tinggi dari ekspor meski harganya masih di bawah harga eskpor.

Di tempat lain, Direktur Ope­rasi Jawa-Bali PT PLN Ngurah Adnyana mengaku, pihaknya ti­dak bisa menghindari keter­gan­tungan terhadap bahan bakar minyak (BBM). Menurut dia, BBM diperlukan untuk menaik­kan tegangan listrik pada pem­bang­kit yang menggunakan ba­han bakar gas maupun batubara.

“Terutama, pembangkit listrik PLTU yang menggunakan batu­bara tetap harus menggunakan minyak untuk menaikkan te­gangan hingga 20 persen. Setelah mencapai 20 persen baru batu­bara masuk,” katanya.

Jadi, tidak bisa seluruhnya pembangkit listrik menggunakan batubara, gas pun begitu.

Kendati begitu, Ngurah mene­gaskan, PLN menargetkan peng­gunaan BBM pada 2012 akan turun menjadi 5,6 persen dari rea­lisasi 2011 yang masih 14,7 per–sen. “Syaratnya ada pasokan LNG dari FSRU sebesar 7.381 GWh atau 5,1 persen,” ujarnya.

Meskipun belum ada pasokan gas, PLN akan berusaha menu­runkan penggunaan BBM hanya mencapai 6,5 persen saja atau sebesar 2.974 GWh karena ada beberapa pembangkit PLTU yang sudah bisa dioperasikan.

Pengurangan konsumsi mi­nyak di Jawa tersebut akan di­alihkan ke daerah Bali karena di sana tidak ada pembangkit listrik meng­gu­nakan batubara atau gas, se­mua­nya menggunakan minyak. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya