ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai impor raw sugar (gula mentah) yang diputuskan Kementerian PerdaÂgaÂngan (Kemendag), KementeÂrian Perindustrian (Kemenperin) dan Dewan Gula Indonesia (DGI) sebesar 240 ribu ton telah gagal.
Wakil Ketua Umum Kadin IndoÂnesia Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur mendesak Kemendag, KemenpeÂrin dan DGI serius memÂperbaiki manajemen perÂgulaan nasional secepat mungkin.
Pasalnya, kendati sudah masuk tahun keenam, namun ternyata ketiga institusi pergulaan itu beÂlum dapat menangani permasalaÂhan tata niaga pergulaan nasional dengan baik.
“Dari awal kami sudah mengÂingatkan pemerintah jangan samÂpai melanggar aturan dan UnÂdang-Undang, namun KemenÂdag, KeÂmenperin dan DGI tetap memÂperÂtahankan kebijakan untuk impor raw sugar tersebut,†ujar Natsir kepada Rakyat MerÂdeka, kemarin.
Saat ini, kata Natsir, harga gula dipasar tetap Rp 11.000-Rp 12.000 per kilogram (kg), apalagi di luar Jawa yang mencapai Rp 13.000 per kg.
Pihaknya juga menyayangkan, panitia kerja (panja) gula DPR seÂbagai lembaga pengawas juga tiÂdak mampu meredam kenaikan harga gula. Ironisnya mereka menÂdukung kebijakan pemerinÂtah impor raw sugar oleh PT PPI (Perusahaan Perdagangan IndoÂneÂsia) yang sejak awal diragukan kemampuannya namun tetap dipaksakan Kemendag.
Ia memprotes pabrik gula rafiÂnasi yang diberikan sanksi karena tahun lalu merembes ke pasaran, sekarang malah diberi ‘hadiah’ untuk mengolah raw sugar.
Kemendag, Kemenperin dan DGI, kata Natsir, perlu memperÂtanggungjawabkan masalah terÂsebut karena seharusnya tidak membiarkan carut marut perguÂlaan nasional yang terjadi berÂtahun-tahun. “Sekarang sudah masuk Mei, tidak boleh lagi impor. Ke depan alasan importir pasti ada macam-macam, bisa kapal telat atau jatah impor raw sugar industri gula rafinasi diÂpakai dulu (dibon). Kalau alasan itu diÂbenarÂkan pemerintah, maka akan memÂbuat kondisi pergulaan naÂsioÂnal lebih parah lagi,†tegasnya.
Sebelumnya, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengusulkan, HPP diberlakukan Rp 9.218 per kg.
Menanggapi permintaan petani tebu tersebut, Dirjen PerdagaÂngan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengataÂkan, HPP gula tahun ini sedang dalam proses pembahasan pemeÂrintah.
Menurutnya, berapa besaranÂnya belum bisa diungkapkan karena maÂsih dalam pembahasan. NaÂmun, pihaknya mengaku akan menÂdengar masukan dari petani tebu.
“Mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi akan segera diumumÂkan HPP-nya,†ujar Gunaryo keÂpada Rakyat Merdeka, kemaÂrin. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23