adan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)
adan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)
RMOL.Terpilihnya enam anggota baru Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) diharapkan mampu mendorong transparansi bisnis telekomunikasi nasional. Rekam jejak anggota badan ini patut diperhitungkan karena proses pemilihannya sarat kepentingan.
Direktur Eksekutif Lembaga Pengembangan dan Pembinaan MaÂsyarakat Informasi (LPPMI) KaÂmilov Sagala menilai, anggota baru yang terpilih tersebut sarat deÂngan kepentingan politik. Yang diÂkhaÂwatirkan nantinya semakin memÂperumit kinerja mereka ke depan.
“JuÂÂjur saja, kalau melihat backÂground dari keenam anggota BRTI yang baru, justru mereka hampir 90 persen sarat keÂpenÂtingÂan politik,†katanya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Senin (30/4).
Enam anggota BRTI yang baru direkrut, yaitu Didik Akhmadi, Riant Nugroho, M. Ridwan EfenÂdi, Sigit Puspito Wigati J, Nonot Harsono dan Fetty Fajriati MifÂtach.
“Mereka seharusnya dipilih dari kalangan praktisi atau proÂfessional saja. Beberapa anggota BRTI diÂpilih dari pemerintah. Sikap inÂdeÂÂÂpendÂen BRTI belum bisa diteÂgakÂkan,†tambah KamiÂlov. ApaÂlagi, menurut dia, dua wajah lama dari anggota BRTI diÂragukan bisa melakukan perÂubahÂan dari kinerja BRTI yang lama.
Buktinya, keanggotaan mereka terdahulu tidak bisa menyeleÂsaiÂkan berbagai masalah seputar teÂleÂkÂomunikasi.â€Terutama kasus seÂdot pulsa, anggota BRTI yang lama terÂkesan lamban bahkan malah mengÂhancurkan industri konten seiring terbitnya Surat EdarÂan No. 77/2011,†kritik Kamilov.
Kenapa harus dimatikan seÂmua? Sementara yang curang haÂnya segelintir content provider saja, ini tidak masuk akal. Yang mengherankan, kasusnya kenapa jadi berlarut-larut, selain industri terancam kolaps, masyarakat pengÂguna juga dirugikan atas terÂhentinya konten yang berÂmanÂfaat.
“Kesannya memang kurang tegas. Mereka sekarang ini harus benar-benar fokus apalagi masaÂlah ke depan. Ada banyak perÂsoalÂan yang harus diselesaikan anÂgÂgota BRTI yang baru,†cetusnya.
Pada BRTI periode 2009-2011, menurut Kamilov, lembaga ini gagal menyelesaikan persoalan reÂgulasi mengenai QoS (quality of serÂvice) karena banyak pelanggan yang kecewa dengan laÂyanan opeÂrator. Baik layanan data maupun suara. “Memang mereka bukan maÂlaikat yang langsung bisa meÂnyelesaikan perÂmasalahan yang ada selama ini. MiÂnimal, kinerja buÂruk di era sÂeÂbelumnya bisa diÂperbaiki. Jangan justru semakin menjadi tidak karuan,†harap beÂkas anggota BRTI ini.
Menanggapi keluhan ini, AngÂgÂota Komisi I DPR Roy Suryo menambahkan, setidaknya keÂenam anggota baru BRTI teÂrÂseÂbut perlu diberi kesempatan meÂlaÂÂkukan pekerjaannya dengan leÂbih baik. “Yang kemarin terjadi kasus pencurian pulsa, memang BRTI ikut andil. Mereka leÂngah. Di masa mendatang, kiÂnerÂjanya bisa diperbaiki,†ujarnya.
Menurut Roy, Komisi I DPR mau memanggil para anggota BRTI yang baru guna berÂkoorÂdinasi untuk sigap langsung meÂnangani masalah telekomunikasi yang terjadi selama ini.
Soal kritiÂkan terhadap pemiliÂhan anggota BRTI yang baru, Kepala Pusat Informasi dan HuÂmas KemenÂterian Kominfo, GaÂtot S Dewa Broto mengatakan, mesÂki sempat terÂtunda beberapa bulan akibat kasus pencurian pulsa, pergantian anggota baru BRTI ini akhirnya tetap dilakÂsaÂnakan karena masih ada anggota lama yang bisa meÂlanÂjutkan tongÂkat estafetnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23