Berita

Ramesh Divyanathan

Bisnis

Gagal Raih Ganti Rugi, Konsumen Polisikan Petinggi BMW Indonesia

SENIN, 30 APRIL 2012 | 08:12 WIB

RMOL.Belum usai kasus yang menimpa Nissan terkait tudingan konsumsi bahan bakar yang boros, perseteruan antara Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan konsumen terjadi lagi. Kali ini, giliran produsen mobil asal Jerman BMW terkena imbasnya.

Gara-gara diduga melakukan pencemaran nama baik, Pre­siden Direktur PT BMW In­donesia Ramesh Divyanathan bisa teran­cam ‘dipolisikan’. Pelapornya ber­nama Iswahyudi Ashari. Ia di­tuding Ramesh akan membakar show­room di Sunter, Jakarta Utara.

“Saya dituduh akan membakar showroom BMW,” ujar Iswahyudi Ashari saat ditemui di Bareskrim Mabes Polri, awal pekan lalu.

Iswahyudi menuturkan kro­no­logis kasus ini. Awalnya, dirinya membeli sebuah mobil BMW tipe Z4 pada 2009. Dia membeli mobil tersebut atas permintaan putrinya yang saat itu melihat pameran mobil di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan.

Mobil dipesan dengan per­mintaan khusus warna cat putih dan interior merah. Pihak PT BMW menyetujui permintaan tersebut. Namun, setelah digu­nakan selama dua tahun, mobil tersebut mengalami kerusakan pa­da mesin. Setelah diklaim, per­baikannya tidak kunjung selesai.

Dijelaskannya, kerusakan BMW Z4 milik Iswahyudi terjadi pada 24 Maret 2012 pukul 01.00 pagi di Jalan Gatot Subroto. Akhirnya pada tanggal 30 Maret 2012 Iswahyudi mengutus supir­nya untuk mengantar mobil tersebut ke bengkel BMW yang berada di Sunter Jakarta Utara.

Iswahyudi pun menanyakan kembali kepada pihak BMW pada tanggal 6 April 2012 dan meminta kendaraan pengganti sementara. Iswahyudi diberi kendaraan pinjaman seri 7 pada tanggal 10 April 2012.

Namun, kendaraan tersebut bermasalah mengalami mati total dengan permasalahan Engine Overheated di Tol Cawang Ja­karta Timur.“Kerugian saya tidak ter­ba­yangkan. Dan sekarang saya dikasih mobil pengganti BMW X5, tapi sekarang saya taruh saja di rumah saya, karena takut ada problem lagi. Mereka seharusnya memberi saya mobil pengganti yang berkualitas,” ujarnya de­ngan nada tinggi.

Setelah melaporkan pence­maran soal nama baik kepada Ba­reskrim Mabes Polri Jakarta Se­latan. Iswahyudi siap menga­ju­kan nasibnya ke BPSK (Badan Pe­nyelesaian Sengketa Konsumen).

“Nanti dulu, karena ada step-step-nya saya melaporkannya. Ke lembaga konsumen, saya akan laporkan juga, pasti akan ke sana. Saya tidak akan berhenti sampai di sini,” ujar Iswahyudi.

Untuk itu, dia mengimbau, supaya masyarakat berhati-hati jangan beli merek saja tapi beli kualitasnya. Lebih baik kita beli Avanza atau Xenia ketahuan ini lebih nyaman,” sarannya.

Pihak BMW sudah melakukan upaya penggantian mobil seba­nyak dua kali. Tapi, tipenya berbeda, yakni seri 7 dan seri X5. Tapi, seri 7 ternyata juga dalam kondisi rusak. Karena sudah dua kali mengalami kecewa, maka mobil seri terakhir yang diberikan tak mau digunakan Iswahyudi.

Dia bilang, kerugian secara material atau imaterial yang dialaminya sudah tak terbatas.

Belum cukup, pertemuan yang sebenarnya sudah dijadwalkan antara Iswahyudi dan Ramesh 20 April 2012 di Grand Hyatt, di­batalkan sepihak oleh Ramesh. Alasannya, Ramesh menuduh Iswahyudi akan melakukan pem­bakaran showroom Astra di Sunter.’’Itu dikirim lewat email, kita laporkan dengan UU ITE Nomor 11 tahun 2008,’’ katanya.

Iswahyudi menunjukkan print out dari Gmail. Email itu dite­ruskan juga ke sejumlah pejabat BMW Indonesia dan Asia Teng­gara. Selain ke polisi, Iswahyudi juga bakal melaporkan BMW ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Ia juga me­minta Kemenkumham mela­ku­kan pence­kalan terhadap Ra­mesh. Laporan diterima dengan nomor laporan TBK/156/IV/ 2012 Bareskrim.

Menanggapi hal tersebut, ke­pada Rakyat Merdeka, Cor­porate Communication Director PT BMW Indonesia Helena Ab­i­din selalu perwakilan BMW de­ngan tegas membantah segala tuduhan tersebut. Dijelaskannya, kalau saat ini pihaknya telah memberi kuasa hukum mena­nga­ni kasus tersebut kepada pe­nga­caranya, Assegaf Hamzah & Partners (AHP).“Sementara ini, kami reject tuduhan itu. Kami juga sudah menunjuk lawyer untuk mena­nganinya. Tapi yang jelas, dengan tegas kami menolak tud­uhan-tuduhan itu. Maaf, kami belum bisa ber­bicara detil ma­sa­lah. Biar lawyer saja yang bicara,” tan­dasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya