Kamar Dagang dan Industri (Kadin) InÂdonesia
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) InÂdonesia
RMOL.Kamar Dagang dan Industri (Kadin) InÂdonesia meminta pemerintah lebih memperhatikan ekÂsistensi pengusaha dalam negeri. PengÂusaha lokal mamÂpu memicu perÂtumbuhan investasi khuÂsusnya di daerah. Jangan terlalu men-dewakan rating investasi asing.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Infrastruktur, Konstruksi dan Properti ZulkarÂnain Arief mengatakan, pemerinÂtah jangan terlalu mengandalkan investasi asing untuk menggerakÂkan perekonomian.
“Pemerintah harus lebih memÂperhatikan eksistensi pengusaha lokal, terutama yang ada di daeÂrah-daerah. Jangan sampai meÂreka hanya jadi penonton di neÂgeri sendiri. Kalau pun mengguÂnakan investor asing, setidaknya menggandeng pengusaha lokal,†ujar ZulÂkarnain kepada Rakyat Merdeka, Kamis (26/4).
Menurut Ketua Kadin Provinsi Sulawesi Selatan ini, lembaga peÂmeringkat investasi internasional tidak boleh sepenuhnya menjadi ruÂjukan. Karena itu, ia mengaku tiÂdak khawatir dengan masih engganÂnya Standard & Poors (S&P) menaikkan rating IndoneÂsia ke level investment grade atau layak investasi. Apalagi, katanya, seÂbelumnya dua lembaga pemeÂringÂkat Fitch Rating dan Moody’s sudah menaikkan rating IndoÂnesia.
Ia menyarankan pemerintah lebih berhati-hati dengan lemÂbaga pemeringkat internasional. Karena dia khawatir penundaan rating tersebut hanya trik agar iklim investasi tidak bagus. “SeÂhingga daya saing kita lemah. Hal itu justru membuat penguÂsaha dari luar negeri bisa leluasa di negara kita karena potensi meÂmang ada,†ungkap Zulkarnain.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dengan tumbuhnya investasi di daerah-daerah, khususnya yang dilakukan oleh pengusaha lokal, diÂharapkan akan membuka peÂluang-peluang ekonomi baru.
“Pengusaha lokal apabila diÂberi kesempatan pasti sangat berÂminat berinvestasi. Berbagai proÂyek seperti infrastruktur, inÂdustri hingga perumahan siap digarap. Dengan begitu akan ada lapangan pekerjaan baru,†pungkasnya
Sebelumnya, Badan KoordiÂnasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, pada kuartal I-2012, membukukan investasi seÂbesar Rp 71,2 triliun. Perolehan itu naik 32,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 53,6 triliun.
Kepala BKPM Gita Wirjawan menjelaskan, realisasi investasi tersebut masih didominasi oleh penanaman modal asing (PMA) yang mencapai Rp 51,5 triliun. SeÂmentara untuk penanaman moÂdal dalam negeri (PMDN) terÂcatat mencapai Rp 19,7 triliun. Angka itu telah menyentuh 25,7 persen dari total target realisasi investasi 2012 yang dipatok Rp 283 triliun.
“Biasanya capaian kuartal perÂtama kurang dari seperempat dari target. Namun untuk tahun ini tren investasi cukup positif. KhuÂsusnya untuk PMA dari Korea, mereka investasi dalam jumlah besar,†ujar pria yang juga menÂjabat sebagai Menteri PerdagaÂngan ini di Jakarta, Senin (23/4).
BKPM mencatat lokasi proÂyeksi PMA terbesar masih berada di DKI Jakarta dengan nilai 1,2 miliar dolar AS. Berikutnya Jawa Barat 1,1 miliar dolar AS, Banten 600 juta dolar AS, Sulawesi SelaÂtan 400 juta dolar AS dan Nusa Tenggara Barat sebesar 400 juta dolar AS.
Realisasi PMA, menurut Gita, berdasarkan sektor usaha masih didominasi oleh sektor pertamÂbangan dengan nilai 1,1 miliar dolar AS, transportasi, gudang dan telekomuniaksi senilai 800 juta dolar AS, tanaman pangan dan perkebunan senilai 500 juta dolar AS, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektroÂnik senilai 500 juta dolar AS serta industri alat angkutan dan transÂportasi lainnya 400 juta dolar AS.
“Upaya peningkatan pemeraÂtaan investasi ke seluruh wilayah berdampak pada realisasi invesÂtasi luar jawa hampir mendekati separuh dari total realisasi peÂriode ini. Namun perlu perceÂpatan pembangunan infrastruktur seperti penyediaan listrik dan gas,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23