ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Meningkatnya utang Pemerintah Indonesia menunjukkan kesalahan dalam pengelolaan keuangan negara. Pasalnya, tiap tahun utang Indonesia bertambah.
Pengamat ekonomi IchsanudÂdin Noorsy mengatakan, terus meÂlonjaknya utang negara meÂrupakan indikasi masih tegaknya reÂzim neo liberal atau negara yang bergantung utang. Baik utang yang bersifat multilateral atau bilateral.
“Dengan utang itu, Indonesia gampang didikte negara maju yanÂg merupakan penguasa ekoÂnomi dunia,†kata Noorsy kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
Seperti diketahui, Ditjen PeÂngelolaan Utang Kemenkeu menÂcatat, memasuki bulan Maret 2012, total utang pemerintah InÂdonesia mencapai Rp 1.859,43 triÂliun. Jumlah itu naik Rp 55,94 triliun dari posisi di akhir 2011 yang nilainya Rp 1.803,49 triliun. Dilihat dari skala rasio terhadap PDB (produk domestik bruto), utang Pemerintah IndoÂneÂsia berada di level 25,7 persen pada Maret 2012.
Berkaca pada statistik peningÂkatan utang negara dari tahun ke tahun, Noorsy pun memprediksi utang Indonesia akan terus naik. “Saya kira nilai utang akan temÂbus sampai Rp 2.000 triliun,†prediksinya.
Peningkatan itu didasari seiring meningkatnya beban hidup maÂsyarakat dari tahun ke tahun. SeÂperti yang terjadi pada tahun 2009, misalnya. Di mana seorang baÂyi yang baru lahir sudah dibeÂbani biaya Rp 7 juta dan sekarang angka membengkak mencapai kisaran Rp 8 juta.
Itu memperlihatkan beban hiÂdup masyarakat yang terus meÂngaÂlami peningkatan. Namun, poÂkok masalahnya bukan mengeÂnai jumlah beban biaya per warga tersebut, melainkan terjadinya penghisapan ekonomi secara strukÂtural dan pengalihan surplus ekoÂnomi nasional secara sisÂteÂmatis pada saat bersamaan. “Itu yang tidak disadari banyak orang dibalik rezim berutang,†timpal dia.
Noorsy pun menyarankan peÂmerintah untuk mengikuti jejak Pemerintah China dalam memanÂfaatkan cadangan devisa dengan struktur yang cerdas. China beÂrani memegang kendali pasaran emas dan membeli surat berharga Amerika Serikat (AS).
Anggota Komisi XI DPR Achsanul Qosasih mengatakan, melihat kondisi utang saat ini, pemerintah harus berhati-hati walau dari sisi ratio utang dengan PDB (produk domestic bruto) masih dalam kondisi aman di bawah 30 persen, yakni 25,7 persen pada bulan Maret 2012.
Dia mengungkapkan, untuk menghambat laju peningkatan utang negara, pemerintah harus terus menggalakkan pengemÂbangan industri dalam negeri guna meningkatkan penerimaan negara. “Dari Bea Cukai, dari pajak itu juga harus ditingkatkan, sehingga penerimaan kita imbang dengan pengeluaran,†jelasnya.
Achsanul berharap, setiap ruÂpiah utang yang dikeluarkan peÂmerintah dapat dipertanggung jaÂwabkan kepada rakyat dan berÂimplikasi langsung terhadap perbaikan kualitas. [Harian RakÂyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23