Berita

jusuf kalla/ist

Jusuf Kalla: Mafia Anggaran DPR Ada Setelah Reformasi

SELASA, 16 AGUSTUS 2011 | 23:00 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Bekas Wakil Presiden, Jusuf Kalla, membenarkan keberadaan mafia anggaran di DPR yang kerjanya menilep APBN. Katanya, mafia anggaran eksis di DPR seumur reformasi.

"Perilaku mafia anggaran di DPR baru terjadi 10 tahun terakhir," kata Jusuf Kalla saat berbicara di Jakarta Lawyers Club, yang disiarkan TV One, sesaat lalu (Selasa, 16/8).

Jusuf Kalla menuturkan, waktu zaman Orde Baru, mafia anggaran tidak eksis di DPR. Sebabnya, sentralisasi kekuasaan di pemerintah pusat mengharuskan pembahasan anggaran hanya dilakukan di tingkat kementerian (eksekutif) saja. DPR tidak ikut membahas, tidak pernah merubah-rubah anggaran sebagaimana yang diusulkan pemerintah. DPR kerjanya, sambung Jusuf Kalla, hanya memberi stempel atau memberikan persetujuan saja.


Beda dengan itu, kata Jusuf Kalla, setelah reformasi ruang suburnya mafia anggaran di DPR jadi terbuka. Hal tersebut seiring dengan berubahnya sentralisasi kekuasaan pasca Reformasi. Kekuatan kekuasaan bukan hanya dimiliki pemerintah pusat, tapi juga oleh DPR dan Pemerintah Daerah. Karenanya, selain membahas rincian besaran alokasi anggarannya, DPR juga ikut membahas sampai hal terkecil dari pengalokasian anggarannya, misalnya, sub proyek apa, di mana proyeknya mau dibuat dan lain-lainnya.

"Zaman Orba cuma ada tiga partai. 60 persen-nya Golkar. Sekali saja perintah langsung jalan itu (anggaran). Ini yang membuat terjadinya negosisiasi di DPR. Dulu negosiasinya hanya di kementerian, kalau sekarang penentuan terakhirnya di DPR," imbuhnya. [dem]

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Swiss Tantang Argentina Usai Singkirkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:45

Kemesraan Prabowo-Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:30

Khayal Seorang Revolusioner

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:15

Pengalaman Demokrasi India jadi Inspirasi Penting Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:53

Sikap Tegas Rektor Untan Jalankan Statuta Universitas Tuai Apresiasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 04:23

Belajar dari Koperasi Pertanian Jepang

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:58

Prabowo: Saya adalah Pengagum Pribadi Shri Narendra Modi

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:31

Kisah Seorang Anak Buruh Harian Lepas

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:13

Bahayakan Nyawa Banyak Orang, DPR Desak Polisi Berantas Maling Besi

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:59

Tinjau TPA Jatiwaringin

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:39

Selengkapnya