Berita

masinton pasaribu/ist

Selalu Ngeluh! SBY Benar-benar Sudah Gagal

SELASA, 12 JULI 2011 | 13:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Periode kedua kepemimpinan SBY energi besar bangsa kita diseret ke dalam persoalan internal presiden SBY. Berkali-kali SBY menyampaikan keluh kesahnya kepada rakyat Indonesia. Dengan memanfaatkan forum resmi kenegaraan dan pemerintahan seperti rapat kabinet, kunjungan kerja, maupun curhatan yang disampaikan secara khusus melalui konferensi pers agar diberitakan media massa.

SBY memaksakan keluh kesah pribadinya kepada rakyat sebagai kehendak pribadi presiden yang harus diterima dan dimaklumi oleh rakyat Indonesia.

"Keluh kesah pribadi SBY tadi malam di Cikeas tentang kondisi internal partainya dan kecamannya terhadap pemberitaan media massa yang mengungkap kebobrokan kader partai demokrat yang terlibat berbagai kasus korupsi tidak ubahnya reality show yang mempertontonkan ketidakcakapan SBY dalam memimpin, entah itu memimpin partainya maupun memimpin negara dan pemerintahan," beber Ketua Umum Repdem Masinton Pasaribu, kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Selasa, 12/7).


Akibat ketidakcakapan SBY sebagai pemimpin, lanjut Masinton, SBY gagal memposisikan dirinya sebagai presiden republik Indonesia yang berdiri di atas seluruh kelompok dan golongan, seperti yang Bung Karno lakukan saat menjabat sebagai presiden RI dengan melepaskan seluruh atribut kelompok, golongan, maupun kepartaian yang sebelumnya melekat pada dirinya.

"Sayangnya, SBY tak pernah belajar dari kepemimpinan Bung Karno," tegas Masinton.

Layaknya pemimpin, kata Masinton lagi, SBY seharusnya mampu memberikan motivasi dan inspirasi, serta ketauladanan dan harapan buat orang banyak, bukan dengan memaksakan keluh kesah pribadi maupun internalnya kepada rakyat.

"Priode kedua kepemimpinan SBY energi besar bangsa kita diseret ke dalam persoalan internal bahkan pribadi presiden SBY. SBY-Boediono sudah tidak efektif memimpin jalannya roda pemerintahan maupun kenegaraan," tandasnya. [dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya