sby/ist
sby/ist
RMOL. Pernyataan pengamat hukum tata negara Refly Harun yang menyatakan bahwa wacana reshuflle kabinet akan sia-sia saja karena problem pemerintahan bukan terletak pada pembantu presiden, tetapi presidennya sendiri yang kurang profesional, dinilai tidak nyambung alias miss-konteks.
Sebagai akademisi yang mendalami masalah hukum tata negara, Refly Harun tidak seharusnya berkesimpulan demikian. Sebab, ada efek derivatif pasca amandemen UUD 45 terhadap tata kelola pemerintahan dan sistem politik Indonesia.
Menurut Ketua Umum Satuan Kerja Anti Korupsi (SKAK), Bob Randilawe, amandemen telah membuat siapapun yang menang pemilu, dalam hal ini presiden maupun partai-partai, akan bersikap hati-hati dan tidak gegabah untuk memutuskan jadi tidaknya resuffle. Hal inilah yang saat ini sedang dialami Presiden SBY. Refly, seharusnya memahami betul situasi saat ini bukan diciptakan oleh partai Demokrat.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23