Berita

ilustrasi

Angka Kemiskinan BPS Terbaru Tidak Mengindikasikan Keberhasilan SBY-Boediono

JUMAT, 01 JULI 2011 | 21:17 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Data penurunan kemiskinan dan pengentasan pengangguran yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (Jumat 1/7), sama sekali tidak mengindikasikan sebagai keberhasilan pemerintahan SBY-Boediono dalam mengatasi kemiskinan.

Penurunan angka kemiskinan dari 31,02 juta (Maret 2010) menjadi 30,02 juta (Maret 2011) yang disebut BPS hanya menggambarkan kondisi kemiskinan di Indonesia di atas kertas saja. Dengan menggunakan definisi kemiskinan absolut dan standar kemiskinan yang minimalis, yakni dengan garis kemiskinan Rp 211,076 perbulan atau dengan penghasilan Rp 7035 perhari angka yang dikeluarkan BPS jelas sangat tidak manusiawi.

Demikian dikatakan Ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dahnil Anzar kepada Rakyat Merdeka Online, (Jumat malam, 1/7).


Lalu, Dahnil pun menjawab data BPS tersebut dengan beberapa fakta yang merupakan hasil temuan dari penelitiannya di lapangan. Tak jauh dari Ibukota, tepatnya di Kabupaten Tangerang, menjadi bukti lain soal kemiskinan.

Dari sepuluh rumah keluarga miskin di Kabupaten Tangerang, khususnya bagian Utara seperti daerah Mauk, Sukadiri dan Kronjo, dua keluarga diantaranya memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan mental akibat kemiskinan. Temuan berikutnya, sambung Dahnil, adanya fakta bahwa keluarga miskin tidak memiliki akses pelayanan kesehatan dan pendidikan yang layak.

"Masalah ini sangat serius," tegas Dahnil.

Dahnil tak sendiri melakukan penelitiannya. Bersama peneliti ekonomi dari Universitas Taruma Negara dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten dengan melakukan penelitian Juni kemarin, Dahnil mendapati jika permasalahan kemiskinan selama ini tidak mendapat perhatian besar dari pemerintah lokal maupun pusat. Komitmen anggaran pemerintah untuk rakyat miskin sangat miskin.

"Dapat diamati dari miskinnya komitmen anggaran untuk mengurangi kemiskinan. Pro poor budget hanya sebatas wacana. Sensitivitas pembuat kebijakan terhadap penderitaan masyarakat miskin nyaris tak terlihat," katanya.

Harusnya, sambung Dahnil, fokus pengentas kemiskinan tidak sekedar menyediakan bantuan-bantuan tunai yang instan, tetapi juga perlu dirancang model kebijakan pro-poor jangka panjang dengan cara memotong lingkaran setan kemiskinan (vicious cycle of poverty), yakni permasalahan lack of education dan lack of health atau hambatan akses pendidikan

"Masalah kesehatan yang selama ini menyebabkan orang miskin tidak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan tersebut. Maka pro poor budget selain dirancang dengan alokasi anggaran jangka pendek seperti bantuan-bantuan permodalan, pelatihan dan penyediaan lapangan kerja, juga harus direvitalisasi pelayanan pendidikan yang terjangkau, kesehatan yang murah sehingga mereka bisa keluar dari lingkaran setan kemiskinan," tandas Ketua PP Pemuda Muhammadiyah itu. [dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya