Berita

Darwin z/ist

PBNU: Harga Mati, Menteri Darwin Harus Tinggalkan Ekonomi Pasar Bebas

SELASA, 28 JUNI 2011 | 19:54 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Kontroversi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang melibatkan institusi keagamaan ke dalam pusaran benang kusut persoalan Sumber Daya Alam juga mendapatkan sorotan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menteri ESDM Darwin Zahedy disarankan untuk fokus menyelesaikan substansi persoalan energi.

"Fokus saja pada penyelesaian substansi. BBM ini tidak lepas dari kebijakan ekonomi kita dalam dekade terakhir ini yang menganut pasar bebas. Bagi PBNU kebijakan ini terlalu ekstrem bagi sebuah negara berkembang seperti Indonesia." ujar Ketua Badan Komunikasi Informasi dan Publikasi PBNU Sulthan Fatoni di Jakarta (Selasa, 28/6).

Menurut Sulthan, bagi PBNU Kebijakan ekonomi pasar bebas hanya akan membesarkan negara maju dan meminggirkan negara berkembang.


"PBNU telah mengingatkan pilihan pasar bebas membahayakan negara. Karena itu seharusnya Pak Menteri merumuskan kembali kebijakannya di sektor energi dengan mengacu pada Pasal 33 UUD 1945," tegas Sulthan.

Ditambahkannya, memang tidak mudah menarik bandul ekonomi dari ekonomi pasar bebas kembali ke semangat ekonomi yang berkeadilan. Namun langkah itu harus dilakukan jika kita tidak menginginkan kehancuran ekonomi dalam negeri dan makin terkikisnya kedaulatan negara.

"Problem BBM memang tidak lepas dari kepentingan asing, termasuk mengusik dan mengikis kedaulatan negara yang menjadi keprihatinan NU. Rakyat telah lama merasakan betapa besar pengaruh asing di sepanjang kekuasaan negeri ini," imbuhnya Sulthan mengutip Tausyiah Rois Aam PBNU yang dibacakan saat Launching Harlah NU 85. [dem]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya