Berita

rizal ramli/ist

HARGA BBM

SBY-Boediono Hadapi Dilema Maju Kena Mundur Kena

JUMAT, 13 MEI 2011 | 15:58 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pemerintahan SBY dan Boediono menghadapi dilema yang tak mudah dipecahkan berkaitan dengan pasokan dan kebijakan harga BBM, terutama premium. Pemerintah berencana menghilangkan premium dari pasar dan mendorong semua pemilik kendaraan untuk menggunakan pertamax.

"Pemerintah terjebak pada dilema maju kena mundur kena," ujar  ekonom senior Dr. Rizal Ramli kepada Rakyat Merdeka Online hari ini (Jumat, 13/5).

Selama ini masyarakat dicekoki gambaran yang keliru tentang dasar dari kebijakan pemerintah menghapus subsidi BBM. Pemerintah kerap kali mengatakan subsidi BBM membuat jebol APBN.

“Apa iya demikian? Kok masalahnya jadi sangat sederhana? Menurut saya penjelasan pemerintah (tentang sebab kenaikan harga BBM) selama ini sangat menyesatkan karena tidak menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di sektor perminyakan Indonesia,” kata Rizal mengulangi hal yang telah disampaikanya dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki, kemarin siang (Kamis, 12/5).

Disebut menyesatkan, sambung Rizal, karena pemerintahan SBY-Boediono selalu mengaitkan harga premium, juga harga minyak tanah, yang keduanya dibutuhkan lapisan masyarakat yang paling luas, dengan subsidi. Padahal bila ditelisik dari sudut pandang finansial, dari perbandingan antara biaya produksi dan harga jual kedua komoditas itu pemerintah sudah menangguk untung.

“Subsidi yang disebutkan pemerintah bukanlah subsidi finansial. Namun dalam pengertian bila harga minyak bumi Indonesia dibandingkan dengan harga minyak di pasar internasional. Kalau itu yang dilakukan memang akan terlihat ada gap dan seolah Indonesia merugi,” ujarnya lagi.

Menurut Rizal lagi, selalu membandingkan harga di dalam negeri dengan harga di pasar internasional yang merujuk ke Amerika Serikat adalah sebuah kekeliruan besar. Pasalnya, pendapatan masyarakat Indonesia tidak setinggi pendapatan masyarakat Amerika.

Masih menurut Rizal Ramli, ada dua persoalan utama dalam dunia perminyakan Indonesia di masa pemerintahan SBY. Pertama, dalam beberapa tahun terakhir tidak terjadi kenaikan produksi minyak mentah. Namun di sisi lain, biaya recovery yang dibebankan malah naik. Produksi minyak mentah turun karena berbagai kebijakan di sektor ini gagal mendorong pengusaha untuk meningkatkan produksi. Sebaliknya, karena cadangan minyak mentah Indonesia masih sangat besar, pengusaha akhirnya lebih senang memburu konsesi pertambangan.

Kedua, sejak masa pemerintahan SBY pengaruh mafia minyak semakin besar.

“Indonesia setiap hari mengimpor 300 ribu barel minyak mentah, dan 400 ribu hingga 500 ribu barrel BBM jadi. Total impor ini sekiat 800 ribu barel per hari. Dari setiap barel impor ada mafia yang dapat 2 dolar AS per barel per hari. Keuntungan mafia minyak dalam setahun sebesar dua kali target penghematan yang dicanangkan pemerintah dalam kebijakan mengurangi subsidi minyak tanah dan premium,” demikian Rizal. [guh]


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Di Hadapan Eks Menlu, Prabowo Nyatakan Siap Keluar Board of Peace Jika Tak Sesuai Cita-cita RI

Rabu, 04 Februari 2026 | 22:09

Google Doodle Hari Ini Bikin Kepo! 5 Fakta Seru 'Curling', Olahraga Catur Es yang Gak Ada di Indonesia

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:59

Hassan Wirajuda: Kehadiran RI dan Negara Muslim di Board of Peace Penting sebagai Penyeimbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:41

Ini Daftar Lengkap Direksi dan Komisaris Subholding Downstream, Unit Usaha Pertamina di Sektor Hilir

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:38

Kampus Berperan Mempercepat Pemulihan Aceh

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:33

5 Film yang Akan Tayang Selama Bulan Ramadan 2026, Cocok untuk Ngabuburit

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:21

Mendag Budi Ternyata Belum Baca Perintah Prabowo Soal MLM

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:54

Ngobrol Tiga Jam di Istana, Ini yang Dibahas Prabowo dan Sejumlah Eks Menlu

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:52

Daftar Lokasi Terlarang Pemasangan Atribut Parpol di Jakarta

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:34

Barbuk OTT Bea Cukai: Emas 3 Kg dan Uang Miliaran Rupiah

Rabu, 04 Februari 2026 | 20:22

Selengkapnya