Berita

M Nuh

Wawancara

WAWANCARA

M Nuh: Nggak Jujur Semua Pasti Ada yang Curang

SABTU, 23 APRIL 2011 | 08:51 WIB

RMOL. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), M Nuh mengakui, ada kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA.

“Memberikan layanan dan mengawasi 2,4 juta anak SMA, kan tidak mudah. Masa murid sebanyak itu nggak ada curang, kan nggak semuanya jujur,pasti ada yang curang. Kadang ada satu atau dua orang yang tidak jujur,” ujar M Nuh kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

Namun, Nuh tak mau meng­ung­kapkan di mana bentuk ke­curangan itu. Yang pasti, kalau mereka melakukan kecurangan akan ada sanksi yang memberi efek jera.


“Tahun ini, kecurangannya mi­nim. Karena, kami telah berusaha maksimal untuk memperbaiki kelemahan sistem pelaksanaan UN,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa saja yang sudah diper­baiki?
Menurut saya, sistem pelaksa­naan UN tahun ini sudah lebih baik. Sebab, dapat mengantisi­pasi berbagai kecurangan. Misal­nya, dalam setiap kelas yang berisi 20 orang anak ada 5 tipe soal berbeda, dan mereka akan mendapat tipe soal yang berbeda setiap harinya. Jadi, kalau hari ini mereka mendapat tipe soal A. Pada hari selanjutnya  tidak akan mendapat tipe soal yang sama. Dengan metode seperti itu, tentu mereka akan sangat sulit untuk melakukan kecurangan.

Bagaimana dengan isu bo­cor­­nya soal UN?
Informasi tentang ada soal bocor dan sebagainya, ya kami tindaklanjuti. Namun, setelah kami telusuri informasi tersebut ternyata tidak benar. Saya sudah mempelajari dan mengevaluasi jalur perjalanan soal UN dari hulu hingga hilir. Jadi, berbagai ke­mungkinan tentang pencurian dan kebocoran sudah kami antisi­pasi. Itu kan orang-orang saja yang sering menyebut isu bocor. Jadi, nggak perlu di­tanggapi terlalu serius. Namanya juga isu.

Mengenai isu beredarnya kun­ci jawaban melalui SMS?
Loh kalau pun SMS kunci jawaban itu benar-benar beredar, bagaimana membukanya. Kan saat melakukan ujian, para siswa tidak diperbolehkan membawa hand phone dan perangkat elek­tronik lainnya. Mereka mau menghapal kunci jawaban itu. Kan informasinya juga belum tentu benar.

Apa yang dilakukan Kemen­dik­nas menghadapi isu terse­but?
Ke depan, yang harus kita ba­ngun adalah analogi yang men­cer­daskan siswa. Misalnya, menga­nalogikan bocoran-boco­ran soal dan kecurangan dalam UN seperti narkoba. Saat men­dengar kata narkoba, jangankan membelinya, dikasih saja kita tidak mau. Sebab, yakin kalau itu tidak benar. Men­talitas itu yang ingin kami bangun kepada adik-adik kita, dalam sistem pendidi­kan kita. Dengan demikian, hasil UN akan men­cerminkan kemam­puan, kejuju­ran, dan sportifitas siswa.

Bagaimana dengan tingkat stres para siswa, apakah hal itu di­antisipasi?
Kalau ada pendapat yang menga­takan, ujian dapat menye­babkan orang stres, ya wajar. Kita dan presiden sekalipun kalau diuji bisa stres. Jadi, para siswa harus berlatih mengelola potensi psikologisnya supaya dapat mengelola tekanan yang sedang dihadapi.

Mengatasi stres bukan sekadar trik, tapi experience. Sebab, mengatasi stres bukan ilmu teori, tapi ilmu praktek. Ibarat orang belajar renang, nggak bisa terus-menerus kita berikan teori bere­nang yang baik, tapi kita nyebur ke kolam renang. Ini juga begitu. Nggak mungkin kita cuma me­ngatakan, sudahlah tenang saja, nggak usah stres.

Makanya sebelum ujian me­reka dimotivasi. Salah satu obat stres adalah motivasi. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan mudah menghadapi tekanan, seberat apapun persoalannya. Kalau motivasinya lebih tinggi, mereka pasti dapat menye­lesai­kan persoalan tersebut.

Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 580 miliar untuk UN, kenapa begitu besar?
Ya, karena jumlah yang ikut ujian juga banyak. Hendaknya, semua pihak tidak hanya melihat jumlah nominal tersebut. Sebab, jika dibagi dengan 10,7 juta siswa yang mengikuti UN, biaya setiap siswa hanya sekitar Rp 50 ribu. Biaya Rp 50 ribu per siswa tadi digunakan, antara lain untuk men­cetak soal, pengawasan, dan koreksi.

Insya Allah besarnya anggaran itu bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, sebelum anggaran itu keluar, kami telah mendiskusikan hal itu dengan kawan-kawan di Panitia Anggaran dan  Komisi X DPR. Itu sudah ada hitung-hitungannya.   [RM]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya