Berita

Ilustrasi/Ist

KEBOHONGAN

Ketua Umum PBNU Akhirnya Mengakui Kebohongan Pemerintah SBY

KAMIS, 07 APRIL 2011 | 14:28 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, yang menyebutkan sampai saat ini janji deradikalisasi oleh pemerintah hanya menjadi simbol dan penghias di media, merupakan kemajuan yang luar biasa dari ormas keagamaan terbesar di dunia itu. Terutama dalam menyikapi pemerintahan Yudhoyono yang kian banyak dicibir orang, di dalam dan luar negeri.

Demikian disampaikan Adhie M Massardi, Jubir (alm) KH Abdurrahman Wahid semasa presiden dan setelahnya, kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (7/4) di Jakarta.

“Sebelum ini, KH Said Aqil Siradj sebagai pimpinan PBNU cenderung membela rezim Yudhoyono. Terutama ketika semua pimpinan ormas keagamaan (minus PBNU) mendeklarasikan ‘Perlawanan Terhadap Kebohongan Rezim’ di kantor PP Muhammadiyah (10/1), beliau nekad pasang badan untuk Pemerintah, dan malah menyalahkan cara mengritik para pemuka lintas agama yang dianggapnya menyimpang,” kata aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini.


Tapi di hadapan sejumlah wartawan di Jakarta, Selasa (5/4) lalu, “Kang Said tampaknya mulai menyadari bahayanya membela rezim yang bohong, terutama dalam masalah terorisme. Sebab yang celaka nanti bukan hanya PBNU dan kaum Nahdliyin, tapi bangsa dan negara bisa terancam,” tutur Adhie.

Dalam soal pemberantasan terorisme, Said memang menyatakan pemerintah tidak melakukan kerja nyata menderadikalisasi kelompok agama. ”Beberapa waktu lalu (30/10/10) saya pernah dinobatkan menjadi Koordinator Nasional Gerakan Deradikalisasi Agama oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, tetapi hingga hari ini kerja bersama dengan lembaga ini juga belum terlihat,” kata Said.

“Rupanya setelah mengalami sendiri termakan janji pemerintah yang tak ada realisasinya, Kang Said baru menyadari kebenaran yang disampaikan para pemuka lintas agama beberapa waktu lalu,” ujar Adhie Massardi. [guh]


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya