Berita

presiden sby/ist

DR. Rizal Ramli: SBY Sulit Bertahan Hingga 2014

RABU, 30 MARET 2011 | 09:29 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Isi kawat diplomatik Kedubes Amerika Serikat yang dibocorkan WikiLeaks dan menjadi pemberitaan di media Australia bukan hal yang mengejutkan. Kawat diplomatik itu antara lain membicarakan kasus korupsi yang melibatkan Presiden SBY dan keluarga.

“Politik di Indonesia memang sudah terkenal sangat jorok,” ujar ekonom senior DR. Rizal Ramli kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Rabu, 30/3).

Menurut Rizal Ramli, SBY dan para penasihat utamanya sudah berusaha untuk menutupi skandal seperti itu. Apadaya, sejak kabar tersebut “bocor” dan menjadi pembicaraan masyarakat awam, keyakinan bahwa SBY dapat bertahan hingga akhir masa jabatan di tahun 2014 menguap.

Rizal Ramli juga mengatakan, opini yang berkembang selama ini mengatakan bahwa walau tidak terlalu kuat, SBY tetap populer karena dianggap memiliki sesuatu hal yang sangat jarang ditemukan dalam praktik politik Indonesia, yaitu integritas. Tetapi setelah selubung itu tersingkap, keadaan berbalik 180 derajat.

Di sisi lain, kemampuan pemerintahan SBY menyejahterakan rakyat pun patut dipertanyakan. Apa yang disebut sebagai tanda-tanda pembangunan hanya berada di atas kertas. Sementara fakta di lapangan memperlihatkan, kualitas hidup di Indonesia anjlok luar biasa selama pemerintahan SBY.

“Walaupun indikator dan angka pertumbuhan ekonomi memperlihatkan kenaikan, namun perlu diingat, kurang dari 20 persen orang Indonesia yang hidup nyaman. Sementara mayoritas rakyat tetap harus berjuang keras dan mati-matian demi memenuhi kebutuhan hidup standar mereka setiap hari,” ujar mantan Menteri Keuangan ini.

Bahkan untuk menemukan pekerjaan kasar saja sudah sulit, sementara pendapatan rata-rata menjadi begitu rendah. Daya beli berkurang drastis, harga bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari naik, dan tentu saja itu semua diikuti pertambahan jumlah penduduk miskin.

Hal lain yang dapat dicermati, demikian Rizal Ramli, di bawah pemerintahan SBY publik juga menyaksikan kehadiran kembali model kekuasaan seperti yang ditemukan di zaman Soeharto. [guh]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya