Berita

Abdul Wahab Dalimunthe

Wawancara

Abdul Wahab Dalimunthe: ICW Ngadu Ke KPK Atau Kejaksaan Saja

MINGGU, 27 MARET 2011 | 00:08 WIB

RMOL.Badan Kehormatan (BK) DPR segera memproses laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan salah satu anggota DPR yang disebut-sebut membekingi impor ilegal Blackberry dan miras.

Wakil Ketua BK DPR, Abdul Wahab Dalimunthe menegaskan, pihaknya ngumpulkan bahan untuk membahas kelanjutan kasus tersebut. Saat ini, laporan itu masih ditelaah sejumlah tenaga ahli.

“Aduannya sudah kami te­rima. Tapi, saya belum membaca utuh laporan tersebut, karena masih ditelaah oleh tenaga ahli di se­kretariat BK DPR,” ujar Wahab kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, ICW mela­porkan salah satu wakil rakyat ke BK DPR, Kamis (24/3). Wakil rakyat itu dituduh melakukan campur tangan, se­hingga dua kontainer BlackBerry (BB) dan minuman keras ilegal lolos dari pencegahan Bea dan Cukai, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Kami ke BK DPR melapor­kan dugaan pelanggaran kode etik terkait pemberian perlin­dungan impor dua kontainer BlackBerry dan minuman keras pada 10 Januari 2011,” kata anggota Badan Pekerja ICW, Apung Widadi.

Wahab selanjutnya mengata­kan, BK DPR belum memutus­kan jadwal persidangan perkara tersebut, karena menunggu hasil pemeriksaan kelengkapan data yang dikirimkan ICW.

“Jika data-data tentang dugaan pelanggaran kode etik itu sudah lengkap, baru kami sidangkan. Namun, kalau tidak memenuhi syarat, bisa jadi pengaduan itu tidak akan sampai ke sidang BK,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang sudah dilakukan BK untuk menindaklanjuti la­po­ran tersebut?

Saya mendapat informasi ten­tang laporan itu, Kamis (24/3) lalu. Kemudian, saya meminta sekretariat BK untuk menelaah laporan tersebut. Rencananya, Kamis (31/3) kami akan mem­ba­has masalah itu, namun be­lum tentu menyidangkannya. Mung­kin, sekadar melakukan penyu­sunan jadwal pelaksanaan sidang.

Biasanya, laporan yang dia­jukan ke BK diselesaikan da­lam waktu berapa lama?

Kalau datanya lengkap, biasa­nya tidak lama. Namun, kalau data­­nya tidak lengkap, tarik me­narik kepentingan politiknya akan menjadi lebih dominan, sehingga persidangan tersebut sulit diselesaikan. Biasanya, ka­lau tarik menarik kepentingan­nya tidak terlalu kuat, laporan yang diadukan ke BK dapat diselesai­kan dalam waktu satu bulan.

Bagaimana melengkapi data-data tersebut agar dapat dipro­ses BK?

Yang kami maksud dengan data yang lengkap adalah jelas tidaknya pasal yang dilanggar dalam kode etik. Kalau pasal yang dilanggar sudah jelas dan tidak multi tafsir, maka tidak akan ada lagi debat kusir yang tak kunjung usai. Sebab, masing-masing orang tidak lagi memiliki tafsir yang berbeda.

Menurut Anda, apakah lapo­ran dugaan pembekingan itu  diproses di BK DPR?

Pendapat pribadi saya, perkara tersebut lebih tepat diajukan ke ranah hukum. Artinya ICW ngadu ke KPK atau Kejaksaan saja. Sebab, kalau di BK lebih kental nuansa politisnya, dan tidak akan menyelesaikan per­soalan hukumnya.

Kemungkinan sanksi apa yang dapat diberikan BK, jika pelanggaran itu benar-benar terjadi?

Sanksi-sanksi yang dapat di­jatuhkan BK, yakni peringatan lisan, peringatan tertulis, dipin­dahkan dari komisi, dan tidak boleh menjabat sebagai anggota alat kelengkapan DPR. Anggota DPR baru dapat diberhentikan se­mentara, kalau dia dianggap me­langggar hukum dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

Jadi, DPR tidak memiliki ke­wenangan mereko­mendasi­kan persoalan tersebut ke ra­nah hu­kum?

Itu bukan ranah kami. Nama­nya juga kode etik, jadi kami hanya mendorong seseorang untuk bekerja sesuai etika yang ada dan berlaku.

Ketua BK DPR saat ini be­lum aktif, apakah BK dapat tetap be­r­sidang dan mengam­bil ke­pu­tusan?

BK DPR dapat tetap bersi­dang dan mengambil sejumlah kepu­tusan. Yang penting, rapat ter­sebut memenuhi quorum. [RM]



Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya