RMOL. Bunuh diri yang dilakukan pasangan suami-istri dari Kepulauan Riau, Saari (44) dan Sugiarti (39), mengokohkan reputasi pemerintahan SBY-Boediono sebagai rezim yang tak memperdulikan rakyat memilih mati bunuh diri, karena dipaksa tak memiliki kemampuan ekonomi.
Kebijakan ekonomi rezim SBY-Boediono, yang hanya memperhatikan nasib pelaku usaha lapisan atas dan perusahaan asing, menimbulkan depresi ekonomi yang membuat masyarakat bawah gelisah. Banyak warga masyarakat yang tak sanggup menghadapi tingkat kesulitan hidup, dan akhirnya memilih jalan bunuh diri untuk mengakhiri penderitaan di negeri yang sangat kaya ini.
Fenomena Saari dan Sugiarti, antara lain, adalah buktinya.
Saari dan Sugiarti ditemukan tak bernyawa setelah menggantung diri di kediaman mereka di Jalan Sulaiman Abdullah Gang Senyum, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kemarin (Rabu, 2/3). Mereka ditemukan pihak keluarga pada pukul 09.30 WIB dengan kondisi mengenaskan dan mengeluarkan bau busuk. Diperkirakan, pasangan itu menggantung diri empat hari lalu. Menurut tetangga Saari pernah mengeluh kesulitan ekonomi untuk mengobati istrinya yang mengalami stroke sejak dua tahun lalu.
“Tragedi yang seakan telah menjadi metode rakyat untuk keluar dari persoalan hidup, tidak pernah dibahas dalam rapat-rapat kabinet. Presiden Yudhoyono hanya sibuk menyoal Setgab koalisi demi keselamatan kursi kekuasaan diri dan partainya. Atau berkutat bagaimana menguasai PSSI yang menjanjikan kerumunan massa yang besar,†kecam aktivis prodemokrasi Adhie Massardi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 3/3).
Adhie yang juga Jurubicara Gerakan Indonesia Bersih (GIB) mengajak semua kelompok masyarakat sipil mengevaluasi rezim, yang menurutnya, sudah terlalu sering absen di tengah persoalan yang dialami rakyat Indonesia. [guh]