Berita

NEGARA GAGAL

Politik Citra, Negara Gagal dan Intervensi Internasional

SENIN, 28 FEBRUARI 2011 | 17:25 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Pemerintah diminta lebih tegas dan cekatan dalam mengurusi persoalan ekonomi dan konflik sosial. Ketiadaan peran pemerintah dapat berimbas pada anarki nasional sehingga memancing intervensi internasional.

Sekadar diketahui, pada awal Februari lalu, sebuah pertemuan para Gurubesar dan pimpinan Universitas di Universitas Negeri Jakarta, memberi peringatan pada pemerintah sebelum negara ini jatuh dalam kegagalan.  Mantan Rektor UGM, Sofyan Effendi, yang juga turut hadir dalam pertemuan itu, dengan jelas memaparkan tanda-tanda itu.

"Dari laporan Failed State Index tahun 2010 Indonesia saat ini berada diperingkat 61 dari 177. Namun, tahun depan bisa saja kita turun lagi," kata Sofyan menyebut salah satu indikator.


Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Ode Ida, di Gedung DPD RI, Jakarta (Selasa, 8/2) mengatakan, Indonesia nyaris menjadi negara gagal. Kepemimpinan nasional begitu lemah dalam mengelola negara. Karena merasa prihatin, beberapa orang lintas partai, pengamat dan aktivis akan mendeklarasikan Gerakan Penyelamatan Bangsa. Diantara pihak yang terlibat dalam Gerakan Penyelamatan Bangsa adalah anggota Fraksi PKB Effendi Choiri, anggota Fraksi Golkar Bambang Soesatyo, anggota Fraksi Golkar Nudirman Munir, Ketua DPP Yuddy Chrisnandi, Sekjen Asosiasi Advokat Indonesia Johnson Panjaitan, pakar hukum tata negara Margarito Kamis.

"Ide ini muncul karena melihat pengolahan bangsa tidak beres, lemah, padahal negara ini sangat luas dan potensi alamnya sangat banyak," demikian La Ode Ida.

Pengamat politik Fadjroel Rachman, juga punya pendapat. Menurutnya, ada tiga isu penting yang harus diperhatikan pemerintah agar negara ini tidak jatuh dalam kegagalan dan hilang dari peta dunia.

"Pertama, kasus korupsi, kedua kasus kemiskinan dan terakhir ketimpangan sosial," jelasnya (Kamis, 24/2).  

Ditambahkannya, Indonesia mengalami masalah pelik dalam persoalan kemiskinan , ketimpangan sosial, ketimpangan antar daerah dan isu SARA. Dan kesemuanya itu akibat kesalahan manajemen negara.

Pengamat politik dan hukum internasional, Yusron Ihza, saat berdialog dengan Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Senin, 28/2) menyambut analisa para akademisi.  

"Justru yang harus kita waspadai, pemerintah kita dianggap tidak bisa mengendalikan keadaaan, lalu orang asing boleh masuk sesukanya. Kalau Dewan HAM PBB, misalnya, masuk, itu bisa jadi penjajahan gaya baru," tegas Yusron.

Eks Anggota Komisi I DPR ini mengatakan, intervensi internasional paling mudah masuk lewat isu hak asasi manusia. Berkaitan dengan situasi nasional kekinian, persoalan ekonomi adalah hal yang paling mudah menyulut pertikaian horisontal antar kelompok masyarakat. Sementara pemerintah tampak kehilangan kendali.

"Kita melihat dalam soal Ahmadiyah dan konflik-konflik horisontal, pemerintah cenderung terlalu banyak bicara, tapi tak banyak berbuat. Kita tidak bisa berharap apa-apa dari politik citra," tegasnya.

Yusron mengajak Pemerintah belajar pada kasus lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Isu pelanggaran HAM menjadi alasan utama dunia internasional mengambil alih Timor Timur.

"Dulu kita kita tahu Timor Timur bikin pusing kita. Jangan sampai sakit itu terulang kembali. Kita diberikan sanksi karena melanggar hak asasi. Kini, ada arah kesana yang perlu diwaspadai pemerintah. Klaim statistik pemerintah berbeda dengan kenyataan ekonomi. Orang susah dimana-mana dan itu mudah konflik, kalau itu terjadi akan semakin nyata ancaman intervensi internasional. Kita berharap pemrintah lebih serius," ucap Yusron.

Perbincangan Indonesia sebagai failed state (negara gagal) menjadi topik diskusi paling hangat beberapa tahun terakhir. Paling banyak dijadikan referensi adalah sosiolog Noam Chomsky, yang dalam buku Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy (2006), mengatakan: sebuah negara bisa dinyatakan gagal bila tidak punya kemampuan atau ogah-ogahan melindungi warganya dari berbagai tindak kekerasan dan ancaman kehancuran.

Satu lagi yang penting dari ciri-ciri failed state. Negara tidak bisa menjamin hak-hak rakyatnya, baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Institusi-institusi demokrasi juga gagal dipertahankan.[ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya