Berita

mohamed abdelaziz/ist

Situasi Yang Mirip Hari Terakhir di Jerman Timur

KAMIS, 20 JANUARI 2011 | 16:42 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Sikap kelompok elit Polisario mengingatkan pada kondisi Jerman Timur sebelum Tembok Berlin runtuh tahun 1989 lalu.

Kala itu, hanya kelompok elit Jerman Timur yang tidak menonton tayangan televisi Jerman Barat. Mereka juga tidak berkomunikasi dengan keluarga mereka yang berada di Jerman Barat yang lebih maju dan makmur.

Itu juga yang kini terjadi di kalangan elit Polisario, kelompok separatis yang ingin memisahkan Sahara dari Maroko. Elit Polisario yang bermarkas di kamp Tindouf di Aljazair juga tidak mengikuti perkembangan di Maroko yang semakin pesat. Mereka pun seolah memutus tali persaudaraan dengan keluarga mereka yang ada di Maroko.

Analisa jurnalis Amerika Serikat, Richard Miniter, itu disampaikannya dalam artikel berjudul “Perang yang Paling Tidak Punya Tujuan” di jurnal papan atas Foreign Policy.

Dia mencontohkan keluhan seorang perwakilan Polisario di Washington DC. Sang diplomat dengan sedih mengatakan, bahwa dirinya tidak berkomunikasi dengan ayahnya selama berpuluh tahun. Dan sekarang dia tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya, karena sang ayah telah meninggal dunia. Menurutnya, kunjungan ke Maroko bagi pejabat Polisario dapat berakibat fatal. Jabatan mereka bisa lepas.

Baru-baru ini Miniter mengunjungi Tindouf dan tinggal di kamp itu selama seminggu. Dia menggambarkan keadaan menyedihkan di kamp tersebut, juga kerusakan lingkungan yang tak tertahankan. Menurut Miniter, elit Polisario telah gagal menciptakan kondisi yang manusiawi.

Ia pun menemukan fakta bahwa kelompok elit Polisario, termasuk pemimpinnya Mohamed Abdelaziz, berkepentingan untuk mempertahankan konflik. Mereka juga menjadikan pengungsi di kamp Tindouf sebagai ATM hidup. [guh]


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya