Berita

adhie m massardi/ist

RUU JOGJAKARTA

Eks Jubir Presiden: Selesaikan Polemik Jogjakarta Lewat Referendum

KAMIS, 09 DESEMBER 2010 | 11:49 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Keinginan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono melikuidasi keistimewaan Daerah Istimewa Jogjakarta lewat RUU Keistimewaan Jogjakarta yang diajukan ke DPR, sesungguhnya bukan persoalan sederhana.

Karena gagasan itu bukan hanya meresahkan masyarakat Kota Gudeg belaka, melainkan juga mencemaskan seluruh rakyat Indonesia. Mundurnya GBPH Prabukusumo dari Partai Demokrat milik Presiden Yudhoyono yang diumumkan tadi malam (8/12) akan meningkatkan suhu politik, khususnya di kawasan Jogja.

Demikian disampaikan Adhie M Massardi kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (9/12) di Jakarta.


Oleh sebab itu, menurut eks juru bicara Presiden RI ke-4 ini, agar polemik tentang keistimewaan Jogjakarta tidak berkembang menjadi kontra-produktif bagi bangsa yang sedang dilanda berbagai krisis ini, juga untuk mencegah timbulnya gagasan aneh lain dari Yudhoyono-misalnya mengembalikan nama Papua menjadi Irian Jaya-menggelar referendum menjadi keniscayaan.

“Referendum ini bisa dilakukan untuk seluruh rakyat Indonesia, bisa juga hanya untuk masyarakat DI Jogjakarta. Kalau pelaksanaannya rumit, referendum bisa dilakukan oleh teman-teman dari UGM (Universitas Gajah Mada) dengan metode survei,” tutur Adhie.

Pertanyaan untuk referendum yang dimaksud eks jubir (alm) Presiden Gus Dur ini adalah: Apakah rakyat setuju dengan (a) Gagasan pemerintah Yudhoyono melikuidasi keistimewaan Jogjakarta, atau (b) Tetap menghormati keputusan para founding father.

“Referendum ini menjadi penting karena hasilnya bisa dipakai sebagai referensi anggota DPR yang akan membahas RUUK Jogjakarta yang diajukan pemerintah Yudhoyono,” ujar Adhie.

Dengan demikian, bisa dihindari kemungkinan terjadinya pemindahan konflik dari “masyarakat Jogja vs pemerintah Yudhoyono” menjadi “masyarakat Jogja vs DPR” apabila ternyata legislatif kemudian mengamini keinginan pemerintah, tambah Adhie. [guh]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya