Berita

kapal tanker/ist

Bakorkamla Gunakan Satelit untuk Pantau Gerakan Kapal Raksasa di Selat Lombok

SENIN, 15 NOVEMBER 2010 | 22:39 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Karena lebih dalam Selat Lombok menjadi jalur perlintasan alternatif bagi kapal-kapal laut berbadan besar seperti super tanker berbobot mati 1.500 ton dan memiliki panjang 200 meter yang tidak bisa memasuki Selat Malaka dan Selat Sunda.

Untuk mengawasi pergerakan masuk dan keluar kapal-kapal raksasa itu melalui Selat Lombok dari dan ke Asia Timur, Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) memilih Karangasem di Bali sebagai lokasi kantor Rescue Coordinating Center (RCC) atau Pusat Koordinasi Penyelamatan.

Dari Karangasem-lah pergerakan kapal-kapal raksasa yang umumnya membawa bahan bakar minyak ini akan diawasi.


Demikian disampaikan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorkamla Laksamana Madya Didik Heru Purnomo kepada wartawan di Kuta, Bali, Senin malam (15/11).

Dengan bantuan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Bakorkamla mengembangkan sistem pengawasan via satelit untuk mengetahui identitas, tujuan dan muatan kapal.

"Semua kapal dilengkapi dengan nomor IMO (Internasional Maritime Organization) dan AIS (Automatic Identification System). Jadi dengan satelit identitas kapal sudah langsung diketahui. Tidak usah ditanya lagi, bisa dipastikan siapa pemilik kapal, mau kemana dan apa muatannya," jelas DHP.

Kapal tanker berbobot mati 1.500 ton dengan panjang 200 meter, sebut didik lagi, memberikan gambaran setara 3.000 mobil tangki berbobot lima ton. Bayangkan, kalau kapal sebesar itu mengalami kecelakaan lalu semua minyaknya bocor atau tumpah ke wilayah laut di Indonesia.

"Memantau pergerakan kapal dengan menggunakan satelit untuk membaca data IMO dan AIS akan sangat membantu untuk mengambil tindakan emergency bila hal ini terjad," ujar Didik lagi.

Khusus untuk RCC Karangasem yang akan diresmikan Selasa (16/11), Bakorkamla mendapat hibah peralatan Global Maritime Distraction System dari Australia. Selain untuk mengawasi potensi kerusakan lingkungan hidup di perairan, peralatan ini juga berfungsi untuk memantau traffic berbagai jenis kapal, mulai dari tanker sampai kapal militer termasuk kapal selam. [guh]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya