Berita

Publika

Memberdayakan dan Memandirikan Industri Strategis

KAMIS, 11 NOVEMBER 2010 | 11:54 WIB

PEMERINTAH melalui Kementerian Pertahanan selama ini telah melakukan kerja sama bidang teknologi dan pertahanan dengan berbagai negara, termasuk membangun kemitraan strategis guna membangun industri pertahanan, juga dalam hal pembiayaan bersama kedua negara. Kerjasama ini, memang seyogyanya terus diupayakan dan diprioritaskan untuk alat transportasi dan mobilitas seperti kendaraan angkut, pesawat dan kapal angkut dengan melibatkan BUMN, industri strategis seperti PT DI, PT Pindad dan PT PAL.

Sebagai bangsa yang besar, sudah selayaknya Indonesia juga mengembangkan industri militer yang mandiri. Janganlah kita terlalu berbangga diri dengan datangnya pesawat tempur Sukhoi dan Heli tempur yang dibeli dari Rusia yang katanya canggih, karena kalau kita tidak waspada, negara beruang merah inipun bisa melakukan embargo seperti AS.

Selama ini salah satu kendala TNI dibidang persenjataan adalah dalam pengadaan dan pemeliharaan Alat Utama Sistim Persenjataan (Alutsista), yang sampai saat ini belum dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ketergantungan kepada pemasok luar inilah yang menyebabkan setiap pengadaan persenjataan prosesnya selalu menjadi masalah karena selain prosesnya yang ruwet, acap kali prosesnya terindikasi terjadi penyelewengan. Pengadaan persenjataan TNI menjadi sangat rentan tatkala ketergantungan dengan luar negeri begitu dominan, sehingga kita sering menjadi bulan bulanan embargo oleh negara pemasok.

Untuk menyikapi permasalahan diatas sudah sepantasnyalah Indonesia mulai mengurangi ketergantungan kepada produksi luar negeri dan harus lebih memberdayakan industri-industri strategis dari dalam negeri seperti PT Pindad yang sudah mampu membuat senjata ringan sampai sedang dan munisi bahkan bom serta kendaraan tempur ringan. PT Dirgantara Indonesia bila dioptimalkan, saya yakin, mampu membuat pesawat tempur. PT PAL sampai saat ini merupakan industri perkapalan yang telah mampu membuat kapal kapal perang. PT Dahana merupakan industri bahan peledak yang mampu membuat bom dan juga PT Bharata di Surabaya, walaupun tidak termasuk industri strategis pertahanan, namun bila diberdayakan, saya yakin, mampu membuat kendaraan tempur seperti tank dan panser.

Bila industri ini benar-benar diberdayakan, kita tidak perlu merasa khawatir adanya embargo senjata yang sering diterapkan negara pemasok. Apalagi kini akan menjalin kerja sama dengan berbagai negara sahabat, sehingga dimasa mendatang kita benar - benar mampu mandiri dibidang peralatan militer.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah atau Kemhan mau memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, untuk mengurangi ketergantungan pada luar negeri. Seharusnya kata embargo bukan untuk ditakuti, tapi harus dilawan dengan kerja keras dengan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri sekalipun harus melakukan kerjasama dengan luar negeri, kemandirian itu harus diwujudkan.

Nurhayati, Jati Cempaka, Pondok Gede, Bekasi,
noorhyati@yahoo.com


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Teddy dan Fadli Zon Saling Bagi Tugas saat Kunjungan PM Modi

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:16

Penegak Hukum Lebih Baik Saling Bongkar Kasus daripada Lindungi Koruptor

Minggu, 12 Juli 2026 | 10:10

Momen Delegasi RI Ziarah ke Makam Ali Khamenei di Mashhad

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:47

Pesan Prabowo ke Aparat Bukan Teguran Biasa Melainkan Instruksi Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:34

Bahlil Bidik Penambahan Kursi Golkar di 2029

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:16

KPK Hormati Proses Hukum Kasus Febrie Adriansyah

Minggu, 12 Juli 2026 | 09:10

Konflik Memanas, AS Bombardir Iran Lagi setelah Selat Hormuz Ditutup

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:50

Penanganan Kasus Korupsi Jangan Ganggu Kekompakan Polri-Kejagung

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:33

Kolaborasi UI-Tsinghua Buka Jalan Produksi Vaksin Dengue Buatan Indonesia

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:15

Kasus Febrie Harus Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Bukan Lobi Politik

Minggu, 12 Juli 2026 | 08:07

Selengkapnya