Berita

Jubir Ical: Nihil, Kontribusi Greenpeace Pada Negara

JUMAT, 05 NOVEMBER 2010 | 06:49 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Desakan LSM asing Greenpeace agar pemerintah menghentikan ketergantungannya terhadap penggunaan batubara sebagai sumber energi mendapat reaksi keras berbagai kalangan.

Lalu Mara Satriawangsa, mengatakan seluruh elemen bangsa Indonesia tidak perlu mendengar kritik Greenpeace.

“Untuk apa ditanggapi. Dipikirin aja gak perlu. Biarin sajalah, gak usah dipikirin,” ujarnya Kamis petang (4/11).

Menurut Lalu, Greenpeace tidak memberikan kontribusi apa pun kepada negeri ini.

“Memangnya apa yang dia berikan kepada negeri ini. Menciptakan lapangan kerja? Tidak. Memberikan kesejahteraan buat masyarakat banyak? Apa lagi, tidak sama sekali,” tandas Lalu, juru bicara Aburizal Bakrie, pemilik pertambangan batubara Kaltim Prima Coal (KPC).

Dalam acara diskusi peluncuran laporan jejak kerusakan batubara, di Jakarta, Rabu (3/11), Greenpeace, Walhi, dan Jatam meminta agar pemerintah dan perusahaan nasional tidak memberdayakan batubara.

“Batubara memang murah. Namun efeknya sangat mahal. Mulai dari kerusakan hutan ketika pembukaan pertambangan batubara, sampai kerusakan lingkungan, manusia, dan iklim,” ujar Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

Melanjutkan keterangannya, Lalu, mengatakan, desakan Greenpeace dan kedua LSM tersebut sangat tidak rasionil. Sebab, batubara merupakan salah satu sumber devisa negara yang besar. Selain itu, sangat banyak masyarakat yang kehidupannya tergantung dari hasil batubara.

“Di sana ada jutaan orang yang kehidupannya sangat tergantung dari batubara,” katanya.

Lalu sangat yakin, pemerintah tidak mungkin menanggapi kritikan yang dilontarkan Greenpeace.

“Apalagi Indonesia merupakan negara berkembang yang masih sangat membutuhkan pendapatannya dari hasil bumi. [guh]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya