Berita

Misteri Areal Konsensi Hutan di Kalimantan Barat

RABU, 03 NOVEMBER 2010 | 18:44 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Greenpeace menuding sejumlah perusahaan swasta-nasional menebang hutan tanpa izin.

Tudingan LSM asing yang bermarkas besar di Belanda ini diluruskan dua peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA dan Prof. Dr. Ir. Bambang Hiro Saharjo.

Dari hasil penelusuran riwayat lahan yang dilakukan kedua ahli dari IPB itu pada konsensi hutan di Kalimantan Barat ditemukan fakta bahwa seluruh areal konsesi adalah bekas areal perusahaan HPH yang setelah habis masa berlakunya. Lalu diteruskan untuk perkebunan, perladangan berpindah atau kebun karet oleh masyarakat setempat.

“Maka dapat dimaklumi kalau perusahaan-perusahaan yang dituduh Greenpeace itu tidak berminat mengurus IPK di awal tahun 2006 dan 2008, sebab tidak lagi memiliki potensi kayu berdiameter di atas 30 cm dengan skala ekonomis,” ujarnya.

Begitu juga soal tudingan bahwa pembukaan hutan dilakukan sebelum memperoleh persetujuan amdal di Kalimantan Barat. Menurut Yanto, perusahaan-perusahaan itu berpegang pada Izin Dispensasi Land-clearing yang dikeluarkan Bupati Ketapang. Demikian pula dengan Izin Usaha Perkebunan yang diperoleh sebelum mendapatkan Persetujuan Amdal.

“Kedua hal tersebut pada dasarnya merupakan wujud kepatuhan terhadap prosedur sebagaimana diarahkan oleh Pimpinan Pemda Kabupaten Ketapang, yang mengacu pada Keputusan Bupati Ketapang 247/2001 tentang Tata cara dan izin usaha perkebunan besar Kabupaten Ketapang, 12 September 2001. Digariskan pada aturan tersebut bahwa izin usaha perkebunan (IUP) bisa diperoleh sebelum persetujuan AMDAL diterbitkan,” jelas Yanto. [guh]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya