Berita

syahganda nainggolan/ist

Sikap Resmi SMC: Pahlawan Nasional untuk Soeharto Melukai Hati Rakyat

SENIN, 25 OKTOBER 2010 | 16:58 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pemerintah tak perlu melanjutkan rencana pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soeharto. Alasannya sederhana: gelar pahlawan nasional untuk mantan pemimpin Orde Baru itu melukai hati rakyat yang hidup di bawah represi Orde Baru.

Gelar pahlawan nasional juga mengkhianati perjuangan reformasi yang dihasilkan berbagai komponen bangsa.

Hal itu dikemukakan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Senin (25/10), menanggapi ramainya isu pemberian gelar pahlawan nasional di berbagai media bagi mantan Presiden Soeharto. Isu itu berangkat dari usul pemerintah provinsi Jawa Tengah serta ditindaklanjuti Menteri Sosial RI. Saat ini usulannya dalam proses penggodogan Dewan Gelar Tanda Kehormatan dan Tanda Jasa yang diketuai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto.

Mantan Presiden Soeharto tidak layak mendapatkan gelar pahlawan nasional, mengingat selama 32 tahun kepemimpinannya rakyat Indonesia mengalami berbagai ketidakadilan maupun penindasan, utamanya hukum dan politik.

“Karena itu, pemberian gelar pahlawan nasional akan menyakiti hati rakyat banyak, lebih lagi rakyat yang menjadi korban penistaan rezim Orde Baru,” tegas Syahganda.

Di masa Soeharto berkuasa, lanjutnya, kenyamanan hidup rakyat yang terkait dengan keadilan Hak Azasi Manusia (HAM), penegakan hukum, maupun hak-hak politik warga negara tidak terjamin secara baik, di samping tidak menghasilkan perkembangan demokrasi yang diharapkan seluruh rakyat. Dengan demikian, rakyat berada dalam kungkungan tirani kekuasaan rezim Seoharto yang cukup panjang, sekaligus merasakan ketakutan hidup di bawah pemerintahan yang represif. [guh]


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya