RMOL. Pengajuan nama Komjen Timur Pradopo sebagai calon Kapolri dinilai hanya karena faktor kedekatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Karena, sebagaimana dibeberkan anggota Komisi III DPR Trimedya Panjaitan, Komjen Timur Pradopo tidak memiliki prestasi yang luar biasa.
"Waktu di Banten tidak ada yang luar biasa. Waktu di Jawa Barat juga tidak ada yang luar biasa. Yang luar biasa mungkin karena kedekatakan beliau dengan Cikeas saja," ujar Trimedya kepada wartawan di gedung DPR, Jakarta (Rabu, 13/10).
Hal ini berbeda dengan prestasi Komjen Susno Duadji. Mantan Kabareskrim itu berhasil menyikat preman-preman yang ada di bumi Parahiyangan saat menjabat Kapolda Jawa Barat. Makanya, dia heran kenapa Komjen Timur yang tidak memiliki prestasi di Jawa Barat dipindahkan ke DKI Jakarta.
"Malah, aneh kemudian dia dipromosikan jadi Kapolda Metro," ujarnya.
Dia mengatakan, untuk jadi Kapolda Metro Jaya, pasti ada rekomendasi, minimal secara lisan, dari Presiden, pada era siapa pun. Karena DKI Jakarta merupakan ibukota negara. Dengan dipindahkan ke DKI Jakarta itulah, politisi PDI Perjuangan ini yakin Komjen Timur Pradopo punya kedekatan dengan SBY.
"Dalam posisi itu tidak mungkin kalau tidak punya kedekatan (dengan SBY). Termasuk Pak Sutarman (Kapolda DKI Jakarta) ini yang menggantikan dia (Komjen Timur). Kalau dia tidak dipercaya sama Istana, tidak mungkin jadi Kapolda Metro," tandasnya.
Bila dibandingkan Komjen Nanan Sukarna, Komjen Timur juga tidak ada apa-apanya.
"Kalau kita lihat Timur-Nanan kontradiktif. Nanan prestasinya di Kalbar menonjol, tapi anjlok waktu di Sumut. Kalau Timur ini datar-datar saja, tidak ada prestasi yang menonjol, tidak ada prestasi yang buruk," tambahnya.
Meski demikian, dia menilai kemungkinan ada penilaian lain kenapa SBY mengajukan Komjen Timur, selain soal kedekatan. "Kalau orang di Akpol itu, kan ada soal intelejensia, soal loyalitas, dan fisiklah. Mungkin karena itu dia dipilih," tandasnya.
[zul]