Krisis ini bermula dari sebuah video percakapan daring dalam acara The Bridge yang mendadak viral di media sosial setempat.
Dalam acara tersebut, Mbappe menceritakan sebuah meme digital di mana wajahnya ditumpangkan pada tokoh sejarah Tiongkok yang sering ia gunakan untuk bercanda saat bermain video game bersama teman-temannya.
Kendati dimaksudkan sebagai gurauan, penggunaan bahasa yang dinilai kurang pantas oleh bintang asal Prancis itu menuai kecaman luas karena dianggap kurang menghormati tokoh sejarah nasional Tiongkok.
Dampak dari kontroversi ini langsung menghantam lini bisnis sang pemain. Tiga perusahaan besar asal Tiongkok—Dongpeng Beverage Group, Mengniu Dairy Group, dan Milkground—secara serentak memutuskan untuk mengakhiri kerja sama kemitraan mereka dengan Mbappe.
Perusahaan Dongpeng secara tegas menyatakan penolakannya terhadap segala tindakan yang melukai sentimen nasional serta tidak dapat menerima pernyataan yang dianggap tidak sopan.
Gelombang boikot ini bahkan merembes ke industri permainan video. FC Online dan eFootball (melalui versi PES Online serta PES Mobile) di pasar Tiongkok mengambil tindakan tegas dengan menghapus seluruh materi promosi, menghentikan produksi kartu pemain baru, hingga membersihkan konten apa pun yang berkaitan dengan sang penyerang.
Permohonan Maaf Resmi dari Kylian MbappeMenyadari dampak besar dari ucapannya, Mbappe akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik.
“Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, saya berbicara tentang sebuah foto yang menyertakan gambar diri saya. Komentar saya tidak pantas, dan sekarang saya mengerti bahwa kata-kata saya telah menyakiti banyak orang di Tiongkok serta komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersinggung oleh kata-kata saya. Itu sama sekali bukan niat saya. Saya sangat menghormati rakyat Tiongkok dan sejarah mereka, dan saya dengan tulus meminta maaf,” kata Mbappe.
Kendati sang pemain telah bertanggung jawab penuh atas kesalahannya, gelombang protes tersebut turut menyeret nama besar La Liga.
Stasiun televisi nasional China Central Television (CCTV) memutuskan untuk menangguhkan siaran pertandingan La Liga serta menghapus seluruh tayangan maupun iklan yang menampilkan Mbappe mulai 26 Oktober.
Langkah drastis ini tentu mengancam jangkauan dan operasi bisnis liga Spanyol tersebut di salah satu pasar paling krusial mereka.
Menanggapi situasi pelik tersebut, Presiden La Liga, Javier Tebas, turut melayangkan permintaan maaf resmi kepada para penggemar di Tiongkok.
“Saya ingin secara pribadi meminta maaf kepada para penggemar Tiongkok atas rasa sakit yang ditimbulkan. Saya sangat menghormati Tiongkok, lembaga-lembaganya, dan rakyatnya, dan saya menghargai kepercayaan yang telah mereka berikan kepada sepak bola kami selama bertahun-tahun,” ujar Javier.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi para atlet dunia bahwa setiap tutur kata di ruang publik memikul tanggung jawab besar yang dapat memengaruhi karier profesional serta relasi diplomatik olahraga lintas negara.
BERITA TERKAIT: