Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 112,56 pada Oktober 2026 dari 112,31 pada September 2026.
Ateng mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil sebesar 0,15 persen dan tingkat inflasi 0,51 persen.
"Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen, cabai rawit dengan andil inflasi 0,05 persen, tomat dengan andil inflasi 0,04 persen, serta sawi hijau, labu siam/jipang, dan sawi putih yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen," jelas Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, pada Senin, 2 November 2026.
Selain makanan dan minuman, komoditas lain yang memberikan andil inflasi yaitu tarif angkutan udara, dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
"Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini yaitu emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen," jelas Ateng.
Berdasarkan komponen, inflasi bulanan terutama dipengaruhi komponen harga bergejolak yang mengalami inflasi 0,77 persen dengan andil 0,13 persen. Disusul komponen inti sebesar 0,12 persen dengan andil 0,07 persen, serta komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 0,09 persen dengan andil 0,02 persen.
Dari 38 provinsi, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi, sementara lima provinsi lainnya mencatat deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Selatan sebesar 1,12 persen. Sebaliknya, deflasi terdalam tercatat di Gorontalo sebesar 0,67 persen.
Sementara itu, secara tahunan inflasi tercatat mencapai 3,23 persen yoy. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,86 persen.
Sedangkan inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) hingga Oktober 2026 tercatat 2,40 persen.
BERITA TERKAIT: