Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Arif Haendra, mengatakan riset pengolahan red mud telah meningkatkan kadar besi dari 33 persen menjadi 53 persen.
Namun, kadar tersebut masih perlu ditingkatkan hingga 56 persen agar dapat dimanfaatkan secara komersial sebagai bahan baku baja.
"Saat ini, riset MIND ID sudah berhasil meningkatkan dari 33 persen menjadi 53 persen. Untuk bisa dimanfaatkan secara komersial, membutuhkan kadar Fe, kadar besinya, 56 persen. Tinggal 3 persen," kata Arif kepada insan pers, Senin malam, 26 Oktober 2026.
Selain kadar besi, kandungan silika juga menjadi tantangan dalam pemanfaatan red mud. Material yang semula memiliki kadar silika sekitar 11 persen itu ditargetkan dapat diolah hingga kandungannya turun di bawah 6 persen.
"Jadi menaikkan 3 persen Fe, menurunkan silika 5 persen. Dari red mud yang semula menjadi limbah, akan menjadi produk bahan baku untuk bikin baja, ada tambahan profit. Yang semula biaya menjadi tambahan profit," ujarnya.
Menurut Arif, keberhasilan memenuhi kedua parameter tersebut menjadi salah satu faktor penting agar red mud dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baja dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pemanfaatan residu bauksit tersebut juga berpotensi memperluas penggunaan mineral yang terkandung di dalamnya, sehingga material yang sebelumnya menjadi limbah pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku industri.

BERITA TERKAIT: