Inalum Kantongi Sertifikat Aluminium Hijau, Bidik Pasar Eropa hingga Asia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-alifia-suryadi-1'>SARAH ALIFIA SURYADI</a>
LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI
  • Selasa, 27 Oktober 2026, 10:07 WIB
Inalum Kantongi Sertifikat Aluminium Hijau, Bidik Pasar Eropa hingga Asia
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Inalum, Arif Haendra. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Kecil Besar
rmol news logo PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengantongi sertifikat aluminium hijau dengan emisi karbon sebesar 2,99 ton CO2 per ton aluminium. Sertifikasi tersebut menjadi modal perusahaan untuk memperluas pasar ekspor, terutama ke Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Inalum, Arif Haendra, mengatakan sertifikat tersebut mendapat respons positif dari pasar internasional karena menunjukkan bahwa aluminium yang diproduksi perusahaan memiliki emisi karbon rendah.

“Green certificate yang diterima sangat baik oleh pasar di Eropa,” kata Arif kepada insan pers di Jakarta, Senin malam, 26 Oktober 2026.

Menurutnya, emisi karbon Inalum saat ini masih dapat ditekan hingga sekitar 2,8 ton CO2 per ton aluminium apabila kondisi muka air Danau Toba kembali normal. Saat ini, produksi listrik dari danau tersebut dikurangi untuk menghemat air sehingga perusahaan harus membeli tambahan listrik dari PLN.

Arif menjelaskan, produk aluminium hijau memiliki nilai jual premium di pasar global. Konsumen di sejumlah negara semakin tertarik menggunakan aluminium rendah emisi untuk mendukung klaim keberlanjutan produk yang mereka hasilkan.

“Di luar, produk green Inalum sangat dihargai. Diberi harga premium,” ujarnya.

Ia mencontohkan perusahaan asal Jepang yang memproduksi velg mobil untuk pasar global di Pasuruan, Jawa Timur. Perusahaan tersebut memilih menggunakan aluminium Inalum karena memiliki sertifikat hijau dan didukung layanan pasokan yang lebih cepat.

Sebelumnya, perusahaan itu membutuhkan sekitar 3.000 ton aluminium per bulan dan masih kerap mengimpor bahan baku dari Afrika maupun negara lain. Kini, perusahaan tersebut memilih menggunakan aluminium Inalum untuk memenuhi kebutuhannya.

Arif menambahkan, tantangan yang dihadapi Inalum di pasar domestik adalah perbedaan biaya akibat pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen atas pembelian aluminium di dalam negeri. Kondisi tersebut membuat harga produk Inalum lebih tinggi dibandingkan aluminium impor yang tidak dikenai beban serupa.

Meski demikian, sertifikat hijau dan keandalan pasokan diharapkan menjadi nilai tambah bagi konsumen industri yang memproduksi barang untuk pasar ekspor. Dengan begitu, keunggulan aluminium rendah emisi dapat menjadi pertimbangan selain harga dalam memilih bahan baku. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA