Capaian ini menjadi referensi pengembangan kawasan perikanan Suprau, Kota Sorong, Papua Barat Daya, melalui sistem klaster yang menghubungkan produksi, penyimpanan, pengolahan, dan pemasaran hasil laut.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hasil perikanan dari KNMP tahap I telah dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Kendari, dan Ternate. Produk dari KNMP Margasari, Lampung, bahkan dilaporkan menembus pasar China.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, KNMP dirancang untuk memperkuat ekosistem usaha perikanan dari hulu hingga hilir.
“KNMP memang dibangun untuk menghidupkan ekosistem perikanan dari hulu sampai hilir,” kata Trenggono dikutip ulang Minggu, 35 Oktober 2026.
Di Sorong, pengembangan KNMP direncanakan menghubungkan Pulau Raam, Suprau, Boswesen, dan Doom Barat. Fasilitas yang direncanakan meliputi tambatan perahu, pabrik es, gudang beku (cold storage), tempat pelelangan ikan, balai pelatihan nelayan, dan SPBUN.
Kawasan Suprau memiliki potensi ekonomi berbasis perikanan. Laporan RRI pada Januari 2024 mencatat seorang pengepul setempat menampung sekitar 300 kilogram lobster per minggu, dengan permintaan dari Jakarta dan Bali. Angka tersebut merupakan data historis dan belum menggambarkan volume perdagangan terkini.
Ketersediaan fasilitas rantai dingin dan akses distribusi diharapkan membantu menjaga mutu hasil tangkapan serta memperluas akses nelayan ke pasar. Namun, manfaatnya bergantung pada kesiapan pengelola, biaya operasional, ketersediaan pasokan, dan kemitraan dengan pembeli.
Karena itu, keberhasilan KNMP Suprau tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur. Program ini perlu mampu mengoperasikan fasilitas secara berkelanjutan, menciptakan peluang kerja, memperluas pemasaran, dan memberikan manfaat ekonomi yang terukur bagi masyarakat pesisir.
BERITA TERKAIT: