Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan, selama dua tahun masa Pemerintahan Prabowo-Gibran sektor pariwisata Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif yang signifikan, dan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Sebabnya, dia mengungkapkan pembangunan pariwisata saat ini tidak hanya berfokus pada kuantitas kunjungan wisatawan, tetapi juga berorientasi pada dampak nyata bagi perekonomian masyarakat serta pemerataan di berbagai daerah.
“Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 21 Oktober 2026.
Dia mengurai, pariwisata yang tangguh atau resilien tercatat sepanjang tahun 2025 yaitu menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), atau meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun 2024 dan melampaui target nasional 14-15 juta kunjungan.
"Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan," sambungnya mengulas.
Tren positif ini, dinyatakan Widiyanti, berlanjut hingga Agustus 2026 dengan perolehan 10,58 juta kunjungan wisman, menandai pertumbuhan 5,38 persen secara year-on-year, dan 842,15 juta perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) atau tumbuh 4,29 persen secara year-on-year.
“Pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara,” katanya menegaskan.
Selain itu, Widiyanti menyebutkan pemerataan destinasi wisata tidak hanya terjadi di Bali atau kota-kota besar. Sebab pada triwulan I 2026, Kawasan Manado-Likupang dan Danau Toba mencatatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara yang sangat tinggi, masing-masing meningkat sebesar 60,42 persen dan 33,40 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.
Dari sisi pertumbuhan tercepat wisnus antara tahun 2025 hingga 2026, Danau Toba kembali memimpin dengan lonjakan signifikan sebesar 106,68 persen, disusul oleh Lombok-Gili Tramena yang tumbuh sebesar 75,45 persen.
“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Widiyanti menemukan faktor pertumbuhan pariwisata bisa positif selama 2 tahun terakhir, yang dapat dilihat dari data pada semester I 2026 yang mencatatkan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara meningkat 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.
"Pengeluaran wisatawan tersebut, dibelanjakan langsung untuk berbagai kebutuhan seperti akomodasi, makan minum, cinderamata, hiburan, paket tur lokal, dan lainnya. Menariknya, lebih dari 95 persen usaha pariwisata digerakkan oleh UMKM," tambahnya.
BERITA TERKAIT: