Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, perkembangan pembayaran digital tidak berarti penggunaan uang kertas dan uang logam bisa sepenuhnya ditinggalkan.
"Jadi, buat para
merchant juga walaupun ada yang memang mereka ingin bayar
cash ya mereka harus bisa menerima," ujar Destry di Jakarta, dikutip Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Destry, kebutuhan terhadap uang tunai masih ada, terutama di sejumlah wilayah Indonesia yang belum memiliki akses memadai terhadap teknologi pembayaran digital.
"Indonesia kan sangat luas, wilayah pulau-pulau, ada daerah terdepan, terluar. Tentu mereka juga masih butuh uang tunai. Sehingga kami tetap masih menyediakan untuk uang-uang apa namanya uang kertas," kata Destry.
Meski demikian, Destry mengakui pertumbuhan transaksi menggunakan uang kartal mulai melambat. Kondisi tersebut terjadi seiring semakin berkembangnya transaksi pembayaran digital, terutama QRIS.
"Kalau kita lihat memang masih tumbuh (transaksi uang kartal) tapi mulai terus melambat," katanya.
Sementara itu, penggunaan pembayaran digital terus menunjukkan pertumbuhan. Pada Agustus 2026, volume transaksi internet banking tumbuh 15,12 persen dan mobile banking 47,08 persen.
Adapun transaksi QRIS tumbuh 67,22 persen, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Saat ini pengguna QRIS tercatat telah mencapai 67 juta orang atau sekitar 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia. BI menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 69,32 juta pengguna hingga akhir 2026.
Dari sisi
merchant, jumlah pengguna QRIS tercatat mencapai 47,11 juta
merchant atau tumbuh 13,83 persen.
BERITA TERKAIT: