Namun di sisi lain, begitu kita melihat layar kaca, mata kita dihidangkan parade pejabat berpakaian dinas rapi atau berbalut rompi oranye yang masih bisa tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan berbagai pengembangan kasus korupsi yang dilakukan penegak hukum seolah telah kehilangan tajinya. Bukannya menimbulkan efek jera, realitas menunjukkan bahwa korupsi justru tak surut secara kuantitas maupun kualitas. Ia malah bermutasi menjadi makin ugal-ugalan.
Lebih mengerikan lagi, korupsi kini tak hanya dilakukan sembunyi-sembunyi lewat laci meja bawah. Korupsi masa kini kerap kali tampil elegan, memakai jas mahal, dan dilegalisasi dengan bungkusan aturan. Undang-undang diakali, pasal-pasal direvisi demi kepentingan segelintir oligarki. Perampokan uang rakyat diubah statusnya menjadi "sesuai prosedur hukum".
Lalu, di mana letak Tuhan saat anggaran triliunan rupiah dipotong untuk proyek fiktif? Bagi para oknum ini, Allah seolah dianggap tidak Maha Melihat. Eksistensi Malaikat Raqib dan Atid—dua entitas pencatat amal yang tak pernah tidur—dianggap tak lebih dari sekadar dongeng masa kecil yang tak berlaku di ruang sidang anggaran.
Agama direduksi menjadi sebatas kolom di KTP, atau sekadar peci dan hijab yang mendadak dipakai saat sidang di pengadilan untuk meraih simpati.
Jika sistem hukum yang dibuat manusia sudah bisa dibeli dan diakali, lantas dengan apa kita mencegah korupsi? Jawabannya mungkin ada pada pendekatan moral yang ekstrem, seperti yang diajarkan oleh para pendiri dan pengasuh Pondok Modern Gontor.
Keteladanan dari Meja Makan: "Lihat Piringku!"Falsafah KH Imam Zarkasyi yang menantang santrinya, "
Lihat piringku, lihat rumahku... Jika kau lihat berlebih dari santriku, silakan demo!" adalah tamparan paling telak bagi para pemangku kebijakan hari ini.
Akar dari suburnya korupsi adalah gaya hidup hedonis dan hilangnya keteladanan dari pucuk pimpinan. Ketika seorang pejabat, kepala daerah, atau menteri memamerkan mobil mewah seharga puluhan miliar atau rumah bak istana yang tidak masuk akal jika diukur dari gaji pokoknya, mereka sedang memberikan "lampu hijau" kepada bawahannya untuk ikut mencari celah.
Pencegahan korupsi ala Gontor dimulai dari hal yang paling fundamental: meja makan. Kesederhanaan atau
zuhud dalam Islam bukan berarti menuntut seseorang menjadi miskin, melainkan kemampuan untuk tidak meletakkan dunia di dalam hati.
Ketika seorang pemimpin (Kiai atau Pejabat) mengondisikan dirinya untuk makan dengan lauk yang sama dengan rakyat atau santrinya, ia telah memutus rantai motivasi utama dari korupsi, yakni ketamakan. Pemimpin yang merasa cukup dengan haknya tak akan punya alasan untuk merampok hak orang lain.
Vaksin Anti-Oligarki: "Di Atas hanya Allah, Di Bawah hanya Tanah"Selain karena tamak, koruptor lahir karena sifat pengecut. Mereka takut kehilangan jabatan, takut tidak di-endorse oleh partai politik, atau takut dimusuhi oleh pengusaha kaya (oligarki) yang mensponsori kampanye mereka. Akhirnya, mereka rela meneken aturan yang merugikan negara demi membalas budi kepada "bos-bos" politik tersebut.
Di sinilah semboyan KH Hasan Abdullah Sahal menjadi vaksin anti-korupsi yang sangat relevan: "Kau besar aku tak berlindung, kau kaya aku tak meminta, kau kuat aku tak gentar, di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah."
Jika setiap pejabat negara ditanamkan Jiwa Bebas dan tauhid yang membumi seperti ini, mereka tidak akan bisa disetir. Mereka tidak akan mau mengemis proyek kepada yang kaya, tidak akan mencari perlindungan hukum kepada penguasa zalim, dan tidak gentar diancam lengser karena menolak suap.
Tauhid yang kuat menyadarkan manusia bahwa jabatan paling lama hanya bertahan 5 hingga 10 tahun, setelah itu semuanya kembali ke bawah, menjadi tanah. Tak ada satu pun harta hasil
mark-up anggaran yang bisa dipakai untuk menyogok cacing tanah atau malaikat penjaga kubur.
Mengaktifkan Kembali "CCTV Langit" Dalam ajaran Islam, benteng terakhir sekaligus terkuat dalam mencegah korupsi adalah
Muraqabah, yaitu kesadaran tingkat tinggi bahwa diri kita senantiasa diawasi oleh Allah SWT.
Manusia bisa menciptakan institusi pengawas seperti Inspektorat, BPK, atau KPK. Tapi sehebat apa pun sistem buatan manusia, jika operatornya bermental maling, sistem itu akan selalu berlubang. CCTV di ruang kantor bisa dimatikan. Laporan keuangan bisa dimanipulasi dengan status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Tapi "CCTV Langit" tidak mengenal istilah kompromi.
Malaikat Raqib dan Atid adalah auditor paling independen di alam semesta. Mereka tidak butuh uang pelicin. Dan yang paling mengerikan, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) mereka tidak akan dibahas secara tertutup di ruang komisi DPR, melainkan akan dibacakan dan ditayangkan secara live di Mahkamah Padang Mahsyar.
Disaksikan oleh seluruh umat manusia sejak zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir. Bukankah itu adalah bentuk
public shaming (hukuman sosial) yang paling epik dan tak terbayangkan ngerinya?
Kesimpulan Negeri ini tidak hanya kekurangan orang pintar yang bisa merancang undang-undang atau sistem
e-budgeting. Negeri ini krisis manusia-manusia yang sudah selesai dengan urusan perut dan gengsinya sendiri.
Kita merindukan lahirnya pejabat-pejabat yang mentalnya ditempa oleh kesederhanaan dan ketauhidan. Pemimpin yang berani berdiri di depan mimbar sambil berkata kepada rakyatnya: "
Lihat piring makanku, lihat garasi mobilku. Jika ada yang melebihi batas wajar dari keringatku sendiri, silakan penjarakan aku!"
Dan yang terpenting, kita butuh pemimpin yang ketika disodorkan koper berisi uang pelicin di sebuah kamar hotel yang sepi tanpa CCTV, dengan tenang akan menjawab: "
Tidak, terima kasih. Di atasku ada Allah yang tidak pernah tidur, dan di samping kiri-kananku ada auditor langit yang sedang bekerja."
Penulis adalah Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri
BERITA TERKAIT: