"Persepsi tentang perlunya reshuffle kabinet, 50,3% responden menganggap perlu, 32,9% tidak perlu, sisanya tidak menjawab/tidak tahu. Survei dilakukan melalui telepon kepada 1200 responden dari seluruh Indonesia pada 2 hingga 6 Januari 2016," kata Jurubicara KedaiKOPI, Hendri Satrio, dalam keterangannya kepada redaksi (Senin, 11/1).‎
‎Saat ini, sebut Hendri, desakan perlunya reshuffle mengalami penurunan. Survei yang dilakukan KedaiKOPI pada Oktober 2015 menunjukkan 55,8% responden menganggap reshuffle perlu dilakukan Jokowi, sementara 37,5% menganggap tidak perlu.
‎"Penurunan tingkat urgensi reshuffle kabinet saat ini diperkirakan terkait meningkatnya kepuasan publik terhadap kinerja kabinet Jokowi. 52% responden menyatakan puas dengan pemerintahan Jokowi-JK, hanya 45,9% menyatakan tidak puas," ungkap Hendri.‎
‎Lebih jauh Hendri mengungkapkan, kalaupun Presiden Jokowi melakukan reshuffle, publik berharap hal itu dilakukan berdasarkan pertimbangan kinerja menteri. ‎
‎Sebanyak 57,4% responden meminta menteri yang dicopot berdasarkan prestasi menteri yang bersangkutan.Â
‎"Hasil survei ini tentu saja sangat dipengaruhi pada kejadian, peristiwa, momentum politik yang terjadi saat telesurvei dilakukan namun tidak terbatas pada poin kepuasan kepada kinerja pemerintah dan nama menteri ‎yang diusulkan untuk direshuffle," tukas Hendri.‎
[dem]
BERITA TERKAIT: