Kegiatan itu, menurut Ketua Panitia Ari Pahlawi J. menjadi semacam ucapan terima kasih dan tanggung jawab moral masyarakat Aceh kepada berbagai pihak yang membantu
recovery Aceh dari bencana Tsunami pada 2004 dan proses perdamaian pada 2005.
"Kegiatan ini semacam tanggungjawab moral. Kita berterima kasih dan melaporkan segala bantuan dunia kepada Aceh," ujar mahasiswa program doktoral musikologi etnik di Monash University, Australia.
"Kekayaan sejarah dan tantangan kekinian Aceh sebagai daerah otonomi khusus Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi perhatian utama kegiatan ini," sambungnya.
Ari juga mengatakan, ICCE 2016 ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sejenis delapan tahun lalu di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.
Di dalam ICCE 2016 ini penyelenggara akan menggelar pertemuan ilmiah internasional bertema
Eksplorasi Kearifan Peradaban dalam Keberagaman Kebudayaan di Aceh sebagai Modal Keberlangsungan Pembangunan yang Maju dan Berkesinambungan di Monash University.
Untuk ini, panitia mengundang masyarakat akademik di seluruh dunia mengirimkan kertas akademik terkait subtema yang diseminarkan seperti
Islam di Aceh: Konstestasi, Negosiasi dan Pembauran Identitas;
Pengalaman Aceh dalam Pengelolaan Resiko, Kesiapan dan Ketahanan menghadapi Bencana;
Seni Pertunjukan, Bahasa, Media dan Sejarah Aceh Moderen; dan
Pemerintahan, Penguatan Infrastruktur, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Selain itu, panitia juga akan menggelar karya seni rupa kontemporer pelukis Mahdi Abdullah yang bertema
Trans Memorabilia.
"Mahdi Abdullah adalah Pelukis kelahiran Aceh yang kini menetap di Yogyakarta. Beliau termasuk salah seorang pelukis nasional Indonesia yang andil dalam mempromosikan keberagaman kebudayaan nasional Indonesia melalui karya-karyanya yang telah dipamerkan diberbagai kota besar di dunia, di antarannya Jerman, Vietnam, Jepang, termasuk sejumlah kota di Indonesia sendiri, dari Aceh, Djogja, Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya dan sebagainya," demikian Ari Pahlawi J.
[dem]
BERITA TERKAIT: