Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Rahmat Hidayat, Ketua PP Gerakan Pemuda Ansor dalam siaran persnya (Senin, 3/8).
Lebih lanjut Rahmat menyatakan bahwa terjadinya kekisruhan dalam Muktamar NU kali ini disebabkan oleh adanya pemaksaan terhadap sistem pemilihan dengan model Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa).
Sebagai Ketua PP GP Ansor, Rahmat juga mengajak Pemuda Ansor untuk tidak terjebak dalam urusan dukung mendukung. Serahkan persoalan itu kepada para Kyai.
Tugas GP Ansor, ujar Rahmat, adalah mengawal dan mempersatukan ulama, bukan memecah belah ulama. Pemuda Ansor harus sadar posisi dan jangan terjebak urusan dukung mendukung, karena Ansor memiliki kewajiban menyatukan apabila terjadi perbedaan bahkan perpecahan dikalangan ulama.
"Saya ingin mengajak Pemuda Ansor untuk berada diposisi tengah dan tidak memihak salah satu pandangan. Tugas Ansor adalah menyatukan pihak-pihak yang berbeda pandangan," katanya.
Ditambakan Rahmat, NU selalu memilih politik jalan tengah. Tetapi hari ini kita melihat seolah-olah hanya ada dua pilihan kalau tidak kiri ya kanan. Katanya NU menjadi contoh islam di dunia, tetapi saat pertemuan ulama malah ricuh dan gaduh.
"Kekisruhan muktamar membuat malu Nahdlatul Ulama. Aktor-aktor dibalik kekacauan harus minta maaf kepada pendiri NU, kalo tidak kualat nanti," tegas Rahmat.
"Ansor itu belum maqomnya (tempatnya) masuk dalam ranah ulama, tugasnya menjaga dan mengawal ulama serta menjalankan perintah ulama. Kalau Ansor saja sudah ikut-ikutan dan terjebak dalam kekisruhan muktamar ini lalu kepada siapa lagi harapan nahdhiyyin dan muktamirin untuk kelangsungan Nahdlatul Ulama," tutup Rahmat.
[dem]
BERITA TERKAIT: