"Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, menghadapi situasi sulit seperti musibah kekeringan sekarang ini mari kita tundukkan kepala tengadahkan tangan memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih, saya serukan desa-desa secepatnya lakukan sholat istisqa mohon segera diturunkan hujan, bagi saudara-saudara yang nonmuslim diharapkan juga berdo’a menurut keyakinannya masing-masing†ujar
Marwan, di Jakarta, Minggu (26/7).
Menteri Marwan sejak beberapa waktu lalu telah memantau fenomena kekeringan yang melanda hampir semua daerah di Indonesia. Tak kunjung turunnya hujan menyebabkan sumber air desa menjadi kering, dan warga desa kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
"Kita juga khawatir akan terjadi gagal panen, begitu juga usaha desa seperti perkebunan, peternakan, perikanan darat, dan lainnya akan ikut terganggu atau berhenti," terangnya.
Pihaknya mencatat, di Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat 379 desa dari 76 kecamatan mengalami ancaman kekeringan dan kekurangan air bersih, termasuk diantaranya kekeringan di lahan persawahan. Sementara di Pamekasan terdapat 80 desa yang rawan kekeringan, di Wonogiri sebanyak 38 desa.
Di daerah-daerah lain juga banyak desa yang sudah atau akan mengalami kelangkaan air. Bahkan kota Bogor yang terkenal sebagai kota hujan saat ini lebih separuh wilayahnya mengalami kekeringan dan darurat air bersih.
Dari berbagai fakta yang terliput media, lanjutnya, setelah usainya shalat Istisqo’ yang dilakukan dengan sangat khusyu’ ternyata daerah tersebut dan sekitarnya tidak berselang lama segera turun hujan.
"Realitas ini menunjukkan bahwa cara-cara spiritualitas juga bisa menjadi solusi kongkrit atas masalah yang dihadapi bangsa, namun hal ini tidak lantas membuat kita melupakan cara-cara lahiriah dengan memanfaatkan sains dan teknologi, justru kita harus memadukan kedua cara itu secara bijaksana dan tepatguna," ungkapnya.
[dem]