"Kita harus menolak lupa bahwa posisi Menteri ESDM dalam KIB II justru berasal dari Partai Demokrat, yakni Darwin Zaidi Saleh dan Jero Wacik yang dua-duanya bermasalah. Karena itu, Jokowi jangan sampai salah memilih sosok Menteri ESDM yang dikhawatirkan akan menjadi persoalan baru dalam kabinet mendatang," kata pengamat politik Rusmin Effendy beberapa saat lalu (Selasa, 7/10).
Menurut Rusmin, khusus untuk kementerian ESDM setidaknya ada 10 kriteria yang harus menjadi pegangan Jokowi agar tidak salah pilih. Hal itu sejalan dengan komitmen Jokowi dalam rangka pemberantasan mafia migas. Apalagi beberapa nama kandidat menteri ESDM yang sekarang digadang-gadang ditengarai hanya menjadi boneka mafia migas. Karena itu, 10 kriteria ini harus menjadi pegangan Jokowi untuk menunjuk menteri ESDM.
Pertama, katanya, dibutuhkan sosok yang benar-benar profesional murni, tidak berafiliasi dengan partai politik. Kedua, masih muda dan energik. Ketiga, pengalaman migas dari hulu sampai hilir. Keempat, punya kemampuan teknis diatas rata-rata. Kelima, kredibilitas dan integritasnya diakui dalam dan luar negeri. Keenam, pendidikan doktor di bidangnya.
Ketujuh, lanjutnya, punya pengalaman kerja di perusahaan minyak dalam dan luar negeri, baik perusahaan nasional maupun asing. Kedelapan, punya pengalaman birokrasi. Kesembilan, berjiwa nasionalis dan punya komitmen untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat di bidang energi melalui revolusi energi. Kesepuluh, mampu membawakan bangsa ini terhindar dari kriris energi.
"Sejatinya kriteria tersebut harus menjadi pertimbangan Jokowi memilih siapa sosok yang benar-benar pantas menduduki posisi menteri ESDM. Sayangnya, dari nama-nama yang beredar seperti Ari Soemarno, Widhyawan Prawira Atmaja, Karen Agustiawan, Evita Legowo, Koentoro Mangkusubroto, Darwin Silalahi, Poltak Sitanggang belum memenuhi persyaratan. Kalau tidak, bangsa ini akan kembali terperosok dalam liberalisasi dan mafia migas," demikian Rusmin. [ysa]