"Untuk apa ya muka-muka lama itu? Apa tidak ada lagi yang lebih muda dan energik serta membawa paradigma baru dalam pemerintahan ke depan? Dari seratusan juta rakyat Indonesia, apakah tidak ada yang lebih baik?" kata aktivis Indonesian Human Rights Commission for Social Justice (IHCS), Ridwan Darmawan, beberapa saat lalu (Senin, 6/10).
Dia mencontohkan, Sri Mulyani Indrawati (SMI), mantan Menteri Keuangan yang kini jadi petinggi World Bank. SMI sering diasosiasikan dengan mazhab ekonomi neoliberal yang bertumpu pada ekonomi pasar.
Menurutnya, ironis bila sosok seperti SMI dimasukkan ke kabinet Jokowi-JK. Karena apa yang dicita-citakan Jokowi melalui Nawa Cita dan Perwujudan Trisakti Bung Karno dalam pemerintahannya ke depan, akan bertolak belakang dengan karakter SMI.
"Lagipula, mending suruh saja Sri Mulyani fokus pada masalah hukum Kasus Century. Buktikan saja kalau memang benar, dengan membongkar semuanya. Jika ia diperlukan untuk pembangunan ke depan, di situ saja. Tidak perlu semuanya melalui kabinet," tegas Ridwan.
"Saya yakin takkan ada nilai tambah positif untuk pemerintahan ke depan yang bisa dibawa muka-muka lama itu. Terbukti kaum mereka justru membuat Indonesia seperti sekarang ini, jauh dari kondisi ideal konsep Trisakti," demikian Ridwan.
[ysa]