Demikian disampaikan Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Menurut Hasto, tulisan di akun
twitter SBY yang lagi-lagi menyalahkan Megawati Soekarnoputri merupakan strategi untuk menutupi langkah politik dua kaki.
Kebuntuan komunikasi seolah menjadi penyebab mengapa Demokrat akhirnya lebih memilih bersekutu dengan KMP, baik dalam gerakan mencabut hak politik rakyat dalam Pembahasan RUU Pilkada, maupun mendukung pimpinan DPR RI, yang salah satu diantaranya adalah saudara SBY sendiri.
"Dalam strategi politik yang sarat diwarnai dengan kepentingan transaksional atas kepentingan politik dan ekonomi, boleh jadi langkah SBY menjadikan Megawati sebagai kambing hitam, merupakan hal yang biasa dilakukan bagi politisi yang tidak memiliki sikap kenegarawanan. Namun dalam politik yang berkeadaban, apa yang dilakukan SBY merupakan pemujaan terhadap strategi itu sendiri," kata Hasto di Jakarta, Senin (6/10).
Dia melanjutkan, publik harus ingat bahwa pada awal pilpres 2004, SBY sendiri mengatakan dizalimi oleh Megawati. Rupanya hal itu juga sebagai bagian strategi untuk menjadikan dirinya seolah-olah sebagai korban. Persis dengan ribut-ribut Perppu pilkada dimana hukum negara dibuat repot akibat politik dua muka SBY.
"Sekiranya Megawati yang mendzalimi SBY, maka dalam teori perilaku, seharusnya Megawati yang aktif untuk meminta bertemu SBY. Yang terjadi justru sebaiknya," imbuhnya.
Hasto mengaku dirinya jadi teringat mengapa para tokoh agama beberapa waktu yang lalu sampai berani mengatakan "SBY Bohong". Karena yang terjadi memang demikian.
Hasto melanjutkan, ketika Jokowi-JK yang telah dinyatakan sebagai presiden dan wapres terpilih pun kesulitan untuk menghubungi SBY pada saat kritis sebelum penetapan pimpinan DPR RI, maka saat itu sudah terlihat bahwa Presiden SBY telah menutup diri kepada presiden pilihan rakyat.
"Sebab skenario bergabung dengan KMP memang telah didisain lama. Hanya perlu kambing hitam untuk memuluskan skenario tersebut," tandasnya.
[ysa]