Dalam surat yang diterima keluarga 2 Juni lalu, Kassig menyebut bahwa dirinya takut meninggal dengan menyisakan sakit dan kepedihan bagi keluarga.
"Jika saya mati, saya pikir setidaknya kamu dan saya bisa berada dalam perlindungan dan kenyamanan dan mengetahui bahwa saya pergi sebagai akibat dari upaya untuk meringankan penderitaan dan membantu mereka yang membutuhkan," kata Kassig dalam surat yang dibacakan orang tuanya, Ed dan Paula Kassig.
"Dalam iman saya, saya berdoa setiap hari dan saya tidak marah dalam situasi saat ini," sambungnya seperti dikabarkan
BBC (Senin, 6/10).
Perlu diketahui, Kassig merupakan sandera yang muncul dalam video eksekusi seorang pekerja bantuan asal Inggris Alan Henning yang dirilis akhir pekan lalu. Dalam video tersebut, usai mengeksekusi Henning, militan ISIS mengancam akan melakukan aksi serupa kepada Kassig bila Amerika Serikat tak juga menghentikan serangan udara yang dipimpinnya untuk menggempur basis ISIS di Irak dan Suriah.
Video itu sendiri merupakan video eksekusi keempat yang dirilis ISIS setelah sebelumnya korban-korbannya adalah wartawan Amerika Serikat James Foley, Steven Sotloff, dan seorang pekerja bantuan asal Inggris David Haines.
Dalam setiap videonya, ISIS menyebut bahwa eksekusi yang dilakukannya merupakan dampak langsung dari serangan udara yang dilakukan oleh sejumlah negara dalam koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat terhadap ISIS.
Orang tua Kassig menyebut, alasan mengapa mereka merilis surat tersebut adalah agar dunia dapat mengetahui mengapa banyak orang yang peduli padanya.
Kassig diculik ketika tengah memberikan bantuan bagi warga Suriah melalui organisasi bantuan yang didirikannya, SERA tahun lalu.
[mel]
BERITA TERKAIT: