42 Titik Rawan Konflik Butuh Penanganan Serius

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Minggu, 10 Agustus 2014, 23:14 WIB
42 Titik Rawan Konflik Butuh Penanganan Serius
Salim Segaf Al Jufri/net
rmol news logo . Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan, saat ini Ada 42 titik rawan konflik di Indonesia yang membutuhkan antisipasi dan penanganan secara holistik dan komprehensif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

"42 titik konflik itu membutuhkan penanganan serius dari masyarakat dan pemerintah dareah (pemda). Setiap konflik yang menjadi korban tentu masyarkat itu sendiri, " kata Salim Segaf tanpa merinci 42 titik konflik itu saat kunjungan kerja di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (10/8).

Perubahan zaman, akulturasi dan asimilasi jelas membawa dampak melunturnya pada sistem budaya asli. Tidak jarang, menjurus dan menyulut konflik sosial di tengah-tengah masyarakat. Juga, hilangnya rasa saling percaya, komunikasi antarwarga terhambat, serta melemahnya kohesivitas sosial di dalam masyarakat.

"Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui oleh segenap bangsa Indonesia. Termasuk dampak-dampak yang ditimbulkannya yang berpotensi menyulut konflik sosial," ujar Salim Segaf dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi.

Di satu sisi, keragaman suku merupakan modal sosial dan benteng ketahanan bangsa Indonesia. Sementara di lain sisi, adalah salah satu yang berpotensi menjadi pemantik konflik sosial.

Dalam kondisi itu, Kementerian Sosial (Kemensos) berdiri di garda terdepan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai solusi untuk mengatasi konflik sosial yang jika dibiarkan bisa mengancam keutuhan NKRI. "Setiap suku memiliki budaya, tata nilai kearifan lokal, norma, tradisi dan perilaku hidup," tandasnya.

Formula keserasian sosial yang dikemas Kemensos dengan beragam bentuk, di antaranya musyawarah antarwarga, membangun fasilitas sosial dan fasilitas akses interaksi antarwarga, serta mengadakan pagelaran kesenian tradisional.

Sementara itu, Kemensos mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan tersebut dengan paket bantuan Rp 109 juta sesuai dengan pilihan kegiatan.

Hingga kini, program tersebut sudah berjalan efektif di 33 provinsi. Bagi setiap warga yang disentuh program bisa mengajukan usulan untuk selanjutnya diverifikasi kelayakan, termasuk uji petik di lokasi sasaran. Dalam pelaksanaan program, keserasian sosial membutuhkan sumber daya manusia (SDM) perdamaian terlatih, penguatkan nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi positif masyarakat, misalnya, ronda, pengumpulan beras (jumputan) dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan keserasian sosial di tengah masyarakat. Tentu saja, Kemensos tidak bekerja sendirian melainkan bersinergi dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), karang taruna, tokoh masyarakat dan tokoh agama, pemuda, dunia pendidikan dan dunia usaha.

"Keserasian sosial yang didukung berbagai elemen masyarakat menjadi sistem peringatan dini atau early warning system, jika timbul gejala yang mengganggu kohesivitas sosial warga di satu wilayah," ujarnya.

Mensos dijadwalkan menghadiri Seminar Apresiasi Pembangunan SDM Kesos di Universitas Al-Khairat �" Palu. Juga, memberikan berbagai paket bantuan, berupa stimulan keserasian sosial untuk 11 desa Rp 1.199.000.000, bedah kamar lanjut usia (lansia) 10 rumah Rp 100 juta, sekaligus meresmikan kegiatan keserasian sosial. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA