Demikian disampaikan politisi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Bila pun ada kader PDI Perjuangan yang keturunan dari keluarga mantan komunis, lanjut TB Hasanuddin, memang PDI Perjuangan adalah partai yang sangat terbuka, dan siapa pun bisa bergabung asal mau berjuang dalam paltform partai untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
"Dan tidak mustahil di partai lain pun banyak kader yang keturunan mantan keluarga PKI," kata TB Hasanuddin beberapa saat lalu (Sabttu, 5/7).
Berbicara soal ideologi komunis, TB Hasanuddin menegaskan bahwa komunis internasional juga sudah collaps. Misalnya saja di Rusia, ideologi komunis sudah goyah setelah ada gagasan perestroika and glasnost dari Mikhail Gorbachev. Hal yang sama juga terjadi di Tiongkok, dan kini Tiongkok sudah menjadi negara modern yang tidak lagi mengaplikasikan sistem komunis dalam sistem ekonominya.
"Kalau yang melakukan hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok, itu bukan hanya PDI Perjuangan. Banyak partai lain juga melakukan hubungan dan berkomunikasi dalam konteks hubungan internasional yang merupakan bagian dari diplomasi bangsa dan negara," ungkap TB Hasanuddin, yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR
Kalau mau menggunakan pola pikir yang sempit dan sederhana, lanjut TB Hasanuddin, mengapa juga TNI melakukan latihan barsama dengan Tiongkok. Bahkan Indonesia membeli alat utama sistem senjata bikinan dari Tiongkok, Rusia dan negara-negara "komunis" lainnya
TB Hasanuddin pun menegaskan, bila Priyanto mau menggunakan paradigma ABRI di era Orba, maka yang harus ditakuti saat ini bukan komunis atau ekstrem kiri. Prijanto justru harus mewaspadai kelompok ekstrim kanan yang mau mengubah NKRI menjadi Negara Islam Indonesia.
"Inilah ancaman di depan mata kita kalau mau menggunakan paradigma Orde Baru yang disampaikan Prijanto. Maka menggunakan pikiran Prijanto, kalau tahun 1948 ancaman berasal dari ekstrim kiri (PKI), pada tahun 1963 dari esktrim kanan (DI/TII) dan pada tahun 1965 dari ekstrim kiri lagi, maka sekarang ancaman datang dari ekstrim kanan lagi," kata TB Hasanuddin, sambil mengatakan bahwa ia sendiri tak mau menggunakan paradgima ABRI di era Orba lagi
"Mari kita gunakan logika yang waras dalam menganalisa sebuah persoalan bangsa. Jangan hanya untuk kepentingan melulu, lalu saling menghantam dan saling menjelekkan. Padahal yang bersangkuan sendiri (Prijanto) diusung menjadi Wakil Gubernur DKI juga karena dorongan PDI Perjuangan," demikian TB Hasanuddin.
[ysa]
BERITA TERKAIT: