Dari pada menunggu kepastian yang tak jelas dari perusahaan milik Edward Soeryadjaya itu, Ahok panggilan akrab Basuki memilih menggandeng pengusaha yang bangunannya dilewati oleh rute Monorel nanti.
"Untuk contoh, misalnya nanti monorelnya lewat di Sudirman-Thamrin, nantinya sumbangannya dari Grand Indonesia, Plaza Indonesia. Nanti imbalannya, stasiun-stasiunnya berhenti di situ," kata Ahok di Balaikota, Jakarta Pusat, Rabu (4/6).
Ia yakin dengan sistem pendanaan seperti ini Monorel tidak akan kembali mangkrak. Karena sistem ini menuntut kepercayaan tinggi dan kecepatan kerja dari para donatur.
Pergerakan Monorel yang dinamis dinilai cocok diterapkan melalui rute-rute perbelanjaan di Jakarta. Dan alat transportasi ini diharapkan Ahok dapat digunakan oleh warga Jakarta nantinya.
"Kelebihan monorel dibanding kereta biasa itu, misalnya dia berhenti di Grand Indonesia. Setelah itu berhenti lagi di Plaza Indonesia masih bisa. Makanya banyak dipakai di bandara-bandara di luar negeri," jelas politisi Gerindra ini.
Ahok juga mengklaim Monorel akan sulit diterapkan untuk perjalanan jarak jauh. Sehingga pusat kota menurutnya tempat yang paling cocok untuk diterapkannya sistem ini.
"Monorel itu untuk jarak jauh agak susah. Kalau jauh mending kereta biasa. Monorel lebih pas kalau di dalam kota. Makanya kita ingin nanti di seluruh pusat kota ada monorel," tandas Ahok.
[rus]