Begitu analisa pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang disampaikannya kepada redaksi beberapa saat lalu dan juga dipancarluaskan melalui akun
@DennyJA_World.
Menurut Denny JA, dari survei yang dilakukan LSI bulan Mei 2014, terlihat bahwa pemilih Demokrat lebih banyak yang mendukung Joko Widodo dan Jusuf Kalla dibandingkan yang mendukung Prabow-Hatta.
"Sebesar 33,53 persen pemilih Demokrat memilih Jokowi-JK. Hanya 22,05 persen yang ke Prabwo-Hatta. Jika demokrat ke Prabwo-Hatta akan lebih banyak pemilihnya yang kecewa ketimbang yang senang," ujar Denny JA.
Selain itu, sambungnya, di kalangan elit Demokrat banyak aktivis dan intelektual muda yang sejak awal sulit menerima Prabowo. Dengan demikian dukungan resmi Demokrat kepada Prabowo membuat posisi intelektual dan aktivis itu sulit.
"
Civil society akan kritis pada mereka. Sangat mungkin dukungan Demokrat pada prabow akan membuat aktivis dan intelektual muda itu ramai-ramai meninggalkan Demokrat," sambungnya.
Denny JA mengatakan, dirinya mengenal beberapa nama aktivis Demokrat yang sudah menyatakan akan keluar dari Demokrat jika Demokrat mendukung Prabowo-Hatta.
Kerugian ketiga, sambungnya, memihak di
injury time itu justru semakin menunjukkan karakter SBY yang lambat mengambil keputusan dan peragu.
Sementara itu, hanya ada satu keuntungan Demokrat bila mendukung Prabowo-Hatta, yakni tidak terkesan sendirian menjadi penonton.
"Memang agak prihatin juga melihat partai terbesar lima tahun lalu kini hanya menjadi penonton, sendirian dan kesepian. Jika Prabwo-Hatta menang, mungkin SBY dan Demokrat ikut punya kontribusi dalam pemerintahan baru. Tapi jika kalah bagaimana?" Denny JA bertanya.
Pada bagian akhir, Denny JA mengatakan, masa depan Demokrat dan dukungan partai itu tergantung pada kejernihan hati SBY dalam mengambil keputusan sore ini.
"Saya hanya memberikan data dan menyampaikan konsekuensinya," demikian Denny JA yang pada tahun 2004 dan 2009 bekerja untuk kemenangan SBY.
[dem]
BERITA TERKAIT: